Media Kampung – Film animasi stop-motion asal Meksiko berjudul I Am Frankelda kini tayang di Netflix dan menjadi bukti bahwa teknik animasi klasik masih mampu memukau penonton di era digital. Film ini merupakan prekuel dari serial televisi Frankeldas Book of Spooks yang sukses di Amerika Latin. Disutradarai oleh duo bersaudara Arturo dan Roy Ambriz, pendiri studio Cinema Fantasma, film ini memakan waktu dua tahun pengerjaan dengan melibatkan puluhan pengrajin.

Detail dan Keunikan Visual

Setiap bingkai film dipenuhi detail yang dibuat dari kaca, resin, kain, dan tanah liat. Beberapa bagian bahkan masih meninggalkan sidik jari pembuatnya. Teknik mixed media digunakan secara kreatif, misalnya dalam adegan makhluk kadal yang meleleh menjadi cat dan meluncur ke sungai dari kapas. Selain itu, naskah iluminasi dan cat air digunakan sebagai alat bercerita.

Kisah Inspiratif tentang Kreativitas

Cerita mengikuti Francisca, seorang penulis muda di Meksiko tahun 1870-an yang bercita-cita menjadi penulis horor. Di dunia imajinernya Topus Terrenos, ia menjadi dewi yang menghidupkan ciptaannya. Ia berhadapan dengan Proscutes, seorang pembuat mimpi buruk korup yang mencuri cerita orang lain. Film ini mengeksplorasi tema kreativitas dan keberanian untuk berbeda.

Dukungan Guillermo del Toro

Sutradara kenamaan Guillermo del Toro menjadi pendukung utama proyek ini. Ia membantu pendanaan awal dan bertindak sebagai penasihat. Melalui media sosial, del Toro menyebut film ini sebagai “humanware” dan memuji semangat pembuatnya yang menggadaikan rumah untuk menyelesaikan film. Ini adalah film stop-motion panjang pertama dari Meksiko.

I Am Frankelda saat ini dapat disaksikan di Netflix, menawarkan pengalaman sinematik yang kaya akan warna dan imajinasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.