Media KampungBank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, sebesar 25 basis points (bps) ke level 5,75% pada Kamis, 18 Juni 2026. Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi konsensus dan merupakan bagian dari upaya bank sentral untuk meredam volatilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. Kenaikan ini menjadi yang keempat kalinya dalam sebulan terakhir, sehingga total akumulasi kenaikan mencapai 100 bps.

Kebijakan Pelengkap untuk Stabilitas Rupiah

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa bank sentral telah bersikap “all-out” dalam menjaga stabilitas rupiah. Selain menaikkan suku bunga, BI mengumumkan sejumlah kebijakan baru, antara lain:

  • Membuka kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan guna menjaga likuiditas pasar uang dan perbankan.
  • Melanjutkan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10% untuk menarik aliran modal masuk.
  • Menaikkan maksimum Rasio Pendanaan Luar Negeri Bank (RPLN) dari 35% menjadi 40% terhadap modal bank, efektif 1 Juli 2026.
  • Menurunkan threshold beli tunai valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying dari US$25.000/bulan menjadi US$10.000/bulan, efektif 1 Juli 2026. Langkah ini akan meningkatkan porsi transaksi yang memerlukan dokumen underlying menjadi 98,1% dari total transaksi.

Sikap Hawkish The Fed dan Dampaknya

Kenaikan BI Rate terjadi di tengah outlook hawkish dari The Fed. Dalam pertemuan 17 Juni 2026, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5-3,75%, namun para pejabatnya kini memperkirakan akan ada satu kenaikan 25 bps pada akhir 2026, kontras dengan proyeksi sebelumnya yang mengisyaratkan pemangkasan. Kepala baru The Fed, Kevin Warsh, mengumumkan akan melakukan review terhadap kebijakan bank sentral, termasuk penghapusan forward guidance, yang dianggap memberi lebih banyak ruang bagi pasar untuk bergerak mandiri.

Menyusul keputusan tersebut, indeks dolar AS (DXY) naik 0,7% ke level 100,8. Namun, nilai tukar rupiah justru menguat 0,16% ke level 17.710 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, setelah sempat melemah hingga -0,7% di level 17.862 selama intraday.

Prospek Rupiah dan Faktor Pendukung

Media Kampung mencatat, selain segera berakhirnya musim repatriasi dividen, beberapa faktor lain berpotensi mendukung penguatan rupiah, seperti rasionalisasi belanja pemerintah (evaluasi program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih) serta normalisasi harga minyak dunia. Investor juga perlu mencermati hasil review MSCI terhadap pasar Indonesia yang dijadwalkan pada 19 Juni 2026 pukul 03.30 WIB, karena dapat mempengaruhi aliran dana asing ke depan.

Secara keseluruhan, langkah agresif BI dalam menaikkan suku bunga dan mengeluarkan kebijakan pelengkap menunjukkan prioritas utama bank sentral saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.