Media Kampung – Pemerintah terus mendorong program integrasi perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi sebagai langkah strategis meningkatkan produksi daging nasional dan mengurangi impor. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menilai model ini memiliki potensi besar, termasuk menghasilkan hingga 1,3 juta ekor sapi dari total luas perkebunan sawit nasional yang mencapai lebih dari 17 juta hektare.
Pernyataan tersebut disampaikan Hanif saat meninjau Program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma (SISKA KU INTIP) yang dikelola PT Buana Karya Bhakti di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Selasa (18/6/2026). Dalam kunjungan itu, ia melihat langsung perkembangan populasi sapi yang awalnya hanya 300 ekor pada 2016 kini menjadi hampir 1.500 ekor melalui sistem pembiakan alami.
“Model ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki potensi besar untuk meningkatkan ketersediaan sapi dalam negeri. Sistem pembiakan alami yang diterapkan juga terbukti efektif dalam meningkatkan populasi ternak,” ujar Hanif dalam keterangan resmi yang dikutip InfoSAWIT dari Pemprov Kalsel, Kamis (19/6/2026).
Potensi Kalimantan Selatan
Hanif mengungkapkan bahwa Kalimantan Selatan memiliki peluang besar mengembangkan integrasi sawit-sapi. Dari total sekitar 480 ribu hektare areal perkebunan sawit di provinsi tersebut, sekitar 250 ribu hektare dinilai berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai kawasan pengembangan peternakan terintegrasi. Jika potensi ini dioptimalkan, diperkirakan sedikitnya 20 ribu ekor sapi dapat dipelihara di kawasan perkebunan sawit, yang mampu membantu menutup defisit kebutuhan sapi di Kalimantan Selatan yang saat ini masih berkisar 20 ribu ekor.
Dampak Nasional
Lebih jauh, Hanif menilai konsep serupa layak diperluas ke berbagai daerah sentra sawit di Indonesia. Dengan luas perkebunan sawit nasional yang mencapai lebih dari 17 juta hektare, integrasi sawit-sapi diperkirakan berpotensi menghasilkan hingga 1,3 juta ekor sapi. “Apabila program ini dikembangkan secara lebih luas, kontribusinya terhadap pemenuhan kebutuhan daging nasional akan sangat signifikan,” katanya.
Saat ini kebutuhan daging sapi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 800 ribu ton per tahun. Namun produksi domestik baru mampu memenuhi sekitar separuh kebutuhan tersebut atau sekitar 400 ribu ton, sehingga kekurangannya masih harus dipenuhi melalui impor dari sejumlah negara pemasok. Menurut Hanif, pengembangan model integrasi sawit-sapi dapat menjadi salah satu instrumen strategis untuk memperkuat kemandirian pangan nasional, terutama dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pengembangan peternakan sapi di Indonesia perlu mengedepankan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik wilayah tropis, bukan sekadar mengadopsi model peternakan dari negara-negara yang memiliki padang penggembalaan luas seperti Australia maupun Brasil.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan