Media Kampung – Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.800 per dolar AS belum menjadi ancaman bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), demikian ditegaskan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai simulasi termasuk skenario pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia hingga mencapai 100 dolar AS per barel. Asumsi nilai tukar rupiah dalam perhitungan tersebut sudah disiapkan sehingga tidak diperlukan perhitungan ulang APBN meski rupiah mengalami tekanan.
“Kita sudah hitung. Pada waktu simulasi harga minyak dunia USD 100 per barel, asumsi rupiahnya juga sudah diperhitungkan. Jadi tidak ada masalah, saya tidak harus hitung ulang APBN-nya,” ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta.
Selain itu, Purbaya menuturkan kondisi pasar obligasi pemerintah masih relatif terkendali meskipun rupiah melemah. Pemerintah melakukan intervensi dengan membeli obligasi agar imbal hasil (yield) tetap stabil dan menjaga minat investor asing untuk berinvestasi di pasar surat utang Indonesia.
“Walaupun rupiah melemah, yield obligasi justru turun karena aksi pemerintah membeli sedikit obligasi agar yield terkendali. Selama pasar obligasi terjaga, kemampuan investor asing untuk masuk tetap ada,” ujar Purbaya.
Pemerintah juga mulai mengamati adanya aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi Indonesia sebagai tanda positif. Ke depan, langkah-langkah lanjutan akan diambil guna memperkuat nilai tukar rupiah secara signifikan.
Meskipun rupiah melemah hingga Rp 17.830 per dolar AS, kondisi ini dinilai tidak mencerminkan gangguan fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat. Pelemahan rupiah biasanya terjadi akibat faktor fundamental yang terganggu, namun saat ini fundamental ekonomi nasional tetap terjaga dengan baik.
Nilai tukar rupiah melemah sekitar 0,20 persen pada perdagangan terakhir, sementara asumsi makro dalam APBN 2026 masih dipatok pada level Rp 16.500 per dolar AS.
Dengan berbagai langkah pengendalian dan kesiapan skenario yang matang, Menteri Keuangan optimistis gejolak nilai tukar ini akan dapat dikendalikan tanpa mengganggu stabilitas fiskal dan ekonomi secara keseluruhan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan