Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan segera menembus level Rp18.000 dalam waktu dekat. Pelemahan ini terjadi di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah serta situasi geopolitik global yang semakin memanas, terutama terkait ketegangan di Timur Tengah.

Pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (26/5/2026) mencatatkan pelemahan signifikan, dengan nilai tukar yang ditutup di angka Rp17.796 per dolar AS, turun sekitar 52 poin dari posisi sebelumnya. Data Bloomberg juga menunjukkan rupiah sempat melemah hingga Rp17.793 saat perdagangan siang hari sebelum penutupan pasar.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyatakan bahwa tren pelemahan rupiah menuju Rp18.000 sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat. Menurutnya, penurunan kepercayaan publik kepada pemerintah menjadi faktor utama yang memperparah kondisi ini. “Pemerintah dinilai belum menunjukkan kesadaran krisis yang memadai dan masih dalam situasi penyangkalan,” ujarnya.

Selain itu, Wijayanto menyoroti kebijakan fiskal yang belum konkret dan sejumlah blunder kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, seperti pembentukan badan ekspor PT DSI dan kebijakan yang berubah-ubah terkait DHE, yang semakin memperburuk situasi perekonomian nasional.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik yang meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat ke wilayah Iran selatan. Serangan ini mengguncang harapan atas kesepakatan damai antara AS dan Iran serta memicu ketidakpastian pasar global. Presiden AS Donald Trump yang sering berubah sikap turut menambah ketegangan, khususnya terkait klaim atas uranium Iran.

Pengamat ekonomi dan pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa kondisi pasar dalam negeri yang akan menghadapi libur nasional Iduladha berpotensi memperbesar volatilitas rupiah. Selama pasar domestik tutup, Bank Indonesia tidak dapat melakukan intervensi optimal di pasar obligasi maupun Surat Berharga Negara, sehingga pergerakan rupiah sangat dipengaruhi sentimen global.

Ibrahim menambahkan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi saat ini juga dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS yang diperkirakan akan bertahan di atas level 100 pada pekan terakhir Mei 2026. Hal ini menyebabkan aliran modal global beralih ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman, sehingga melemahkan mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Selain itu, permintaan dolar AS meningkat akibat kebutuhan pembayaran dividen emiten dan musim keberangkatan haji, yang biasa terjadi pada kuartal kedua setiap tahun. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen merupakan langkah agresif untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan tekanan arus modal keluar.

Namun, Josua menegaskan bahwa kenaikan suku bunga tersebut hanya mampu menahan pelemahan rupiah dalam jangka pendek. Faktor fundamental lain seperti harga minyak dunia, kebutuhan impor energi, pembayaran utang luar negeri, serta persepsi investor terhadap kebijakan pemerintah tetap menjadi penentu pergerakan rupiah ke depan.

Dengan berbagai tekanan baik dari dalam maupun luar negeri, rupiah diprediksi akan terus melemah dan berpotensi menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat, terutama jika ketegangan geopolitik dan kondisi pasar global tidak segera membaik.

Situasi ini menuntut respons cepat dan kebijakan yang tepat dari pemerintah serta Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan pasar, agar dampak pelemahan rupiah tidak semakin meluas dan mengganggu perekonomian nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.