Media Kampung – Rupiah telah menembus Rp17.500 per dolar Amerika Serikat, menandai pelemahan tajam dalam kurun waktu singkat. Perencana Keuangan Independen, Safir Senduk, menyarankan masyarakat untuk menunda pembelian barang elektronik atau produk bermerek luar negeri yang harganya sangat dipengaruhi dolar.
Safir menekankan pentingnya evaluasi pengeluaran rutin dan penggunaan transportasi umum demi menekan beban biaya energi harian yang meningkat. Ia juga menyarankan untuk memperbesar dana darurat hingga mencapai cadangan tiga sampai enam bulan sebagai langkah antisipasi ketidakpastian ekonomi.
Bagi para investor ritel, disarankan untuk tetap fokus pada fundamental perusahaan yang bagus saat harga saham sedang terkoreksi murah. Emas dianggap sebagai instrumen yang jauh lebih stabil dan menguntungkan dibandingkan menyimpan aset dalam bentuk tabungan mata uang asing.
Masyarakat diminta untuk lebih selektif dalam menyerap informasi dari media sosial yang seringkali memicu kepanikan tanpa dasar ahli. Mengikuti perkembangan berita melalui media resmi menjadi kunci utama agar tetap tenang dalam mengelola keuangan pribadi saat situasi sulit.
Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menyatakan bahwa volatilitas mata uang domestik sangat bergantung pada ketersediaan suplai serta permintaan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat menjadi pemicu utama depresiasi rupiah tersebut.
Esther juga menyoroti adanya kebutuhan dolar yang meningkat tajam karena utang jatuh tempo sebesar 833 triliun rupiah tahun 2026. Pemerintah perlu menguatkan kebijakan investasi dan mendorong sektor ekspor secara masif guna memperbaiki fundamental nilai tukar jangka panjang.
Bank Indonesia diharapkan melakukan intervensi pasar uang secara agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar dari potensi pelemahan lanjutan. Namun otoritas fiskal juga harus bersinergi melakukan optimalisasi pengeluaran negara pada program yang berdampak signifikan bagi masyarakat luas.
Pelemahahan rupiah diprediksi akan segera memicu kenaikan harga pangan serta energi akibat ketergantungan industri terhadap bahan baku impor. Biaya produksi yang membengkak dipastikan akan dibebankan kepada konsumen akhir sehingga daya beli masyarakat berisiko mengalami penurunan tajam.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan