Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebesar 0,91 persen atau turun 56,668 poin pada jeda perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, dan tercatat di level 6.149,68. Meskipun sempat menguat di awal sesi perdagangan, tekanan jual yang kuat menyebabkan IHSG berbalik arah dan menurun tajam hingga menembus zona merah.

IHSG dibuka pada posisi 6.201,80 dan mencapai titik tertinggi di 6.286,87 sebelum akhirnya terus melemah hingga menyentuh level terendah di 6.132,34. Pergerakan ini mencerminkan tingginya volatilitas yang masih menghantui pasar saham domestik pada sesi pertama perdagangan hari ini.

Volume perdagangan tercatat mencapai 15,322 miliar saham dengan nilai transaksi harian sebesar Rp9,128 triliun dan frekuensi perdagangan mencapai 1.215.837 kali. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 253 saham menguat, 396 saham melemah, dan 169 saham stagnan, menandakan mayoritas saham sedang berada di tekanan jual.

Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, mengungkapkan bahwa IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dalam waktu dekat. Ia memprediksi level support IHSG berada pada rentang 6.060 hingga 6.170, sementara resistansi diperkirakan ada di kisaran 6.250 hingga 6.270. “IHSG berpotensi terkoreksi, di level support IHSG akan bergerak pada rentang 6.060-6.170,” ujar Fanny.

Meski pada hari Senin, 25 Mei 2026, IHSG sempat menguat, kondisi tersebut tetap diiringi aksi net sell oleh investor asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp2,09 triliun. Saham-saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing antara lain AMMN, BMRI, AMRT, ANTM, dan TPIA.

Situasi pasar juga dipengaruhi oleh kondisi global. Bursa saham Amerika Serikat tutup akibat libur nasional Memorial Day, sementara pasar saham di kawasan Asia justru mencatat penguatan. Indeks Nikkei 225 di Jepang bahkan melonjak hingga 2,87 persen pada perdagangan Senin.

Sentimen pasar saat ini juga diwarnai oleh harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Reuters melaporkan bahwa tim dari Qatar telah melakukan perjalanan ke Teheran dengan koordinasi dari AS untuk memfasilitasi proses negosiasi tersebut, yang turut memengaruhi dinamika pasar saham global dan domestik.

Di sisi lain, harga minyak dunia terus mengalami kenaikan. Harga minyak Brent naik 0,9 persen menjadi 103,54 dolar AS per barel, sedangkan minyak WTI menguat sekitar 0,3 persen ke level 96,60 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak ini menjadi salah satu faktor yang turut memberikan tekanan pada pasar saham Indonesia hari ini.

Secara keseluruhan, IHSG masih menghadapi tantangan volatilitas tinggi dan tekanan jual yang signifikan di tengah ketidakpastian global dan aksi jual investor asing. Pergerakan indeks dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi internasional dan sentimen pasar global yang terus berubah.

Dengan kondisi saat ini, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada dan memperhatikan level support serta resistansi yang telah diprediksi oleh para analis sebagai acuan dalam mengambil keputusan investasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.