Media KampungNilai tukar rupiah terus mengalami tekanan signifikan dan berpotensi menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) jika kondisi eksternal dan domestik tidak membaik. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik global dan tantangan ekonomi dalam negeri yang semakin membebani pasar keuangan Indonesia.

Data Bloomberg pada 19 Mei 2026 menunjukkan rupiah telah melemah hingga Rp 17.728 per dolar AS, meningkat 0,34 persen dibandingkan sebelumnya. Penguatan dolar AS yang didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama di balik pelemahan rupiah. Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menyampaikan adanya peluang negosiasi dengan Iran, pasar masih merespons dengan skeptis karena pernyataannya yang tidak konsisten.

Situasi kian memburuk setelah serangan drone menargetkan fasilitas nuklir di Uni Emirat Arab dan terungkapnya pangkalan militer Israel di gurun Irak. Kejadian ini meningkatkan ketegangan geopolitik yang mendorong penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak dunia yang kini bertahan di atas US$ 106 per barel.

Lonjakan harga minyak tersebut berpotensi memicu inflasi global yang lebih tinggi dan membuat Federal Reserve AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka kemungkinan kenaikan lebih lanjut. Kondisi ini membuat rupiah semakin tertekan di pasar valuta asing.

Dari sisi domestik, tingginya impor minyak Indonesia menjadi beban besar bagi kebutuhan dolar AS. Indonesia mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak setiap hari, sehingga kebutuhan devisa meningkat secara signifikan. Selain itu, asumsi dasar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih menggunakan kurs Rp 16.500 per dolar AS dan harga minyak US$ 70 per barel dianggap sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.

Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa kombinasi faktor global dan domestik memberikan tekanan luar biasa pada pasar keuangan Indonesia. Ia menilai tren pelemahan rupiah yang terjadi sejak pandemi Covid-19 dan berlanjut hingga 2026 ini berbeda dengan fluktuasi biasa karena pergerakan dolar yang terus menguat tanpa tanda-tanda kembali ke posisi semula.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa rupiah bisa menembus Rp 18.000 per dolar AS dalam waktu dekat jika ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi dalam negeri tidak segera teratasi. Kondisi ini juga akan menambah beban subsidi energi dan mempengaruhi daya beli masyarakat secara luas.

Meski demikian, pemerintah dan pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi secara cermat. Langkah-langkah strategis diperlukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah agar dampak negatif terhadap perekonomian nasional dapat diminimalisasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.