Media Kampung, Harga minyak mentah Brent melonjak hingga 9% dalam dua hari perdagangan, menembus level US$78,6 per barel pada Rabu (8/7/2026). Kenaikan ini melanjutkan tren positif setelah pada Selasa (7/7) harga bertambah 3%, dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu menyatakan bahwa gencatan senjata sementara antara AS dan Iran telah berakhir. Pernyataan itu muncul setelah AS melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran dan mencabut izin penjualan minyak Iran. Langkah tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz pada Selasa (7/7).
Kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, melaporkan bahwa sebuah kapal tanker Qatar diserang setelah mengabaikan peringatan berulang. Sementara itu, Press TV Iran mengabarkan sejumlah ledakan di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran yang menangani sekitar 90% pengiriman minyak negara tersebut. Pulau Kharg sebelumnya juga menjadi sasaran serangan AS pada April 2026.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Bloomberg bahwa negosiator tetap melanjutkan pembahasan untuk mencapai kesepakatan final, meskipun peluang kesepakatan yang lebih luas dinilai tidak pasti. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa negosiasi tidak akan dimulai jika ancaman terus berlanjut.
Kembali memanasnya tensi geopolitik meningkatkan volatilitas harga minyak, yang berimplikasi terhadap inflasi dan arah suku bunga global. Bagi Indonesia, volatilitas harga minyak memengaruhi fiskal melalui belanja subsidi energi, serta neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah. Pada Rabu, rupiah melemah 0,09% ke level 17.999 per dolar AS, sementara IHSG turun 1,89%.
Di pasar komoditas lain, harga emas turun 2,15% ke US$4.068 per ons. Pelemahan IHSG terutama terjadi pada saham-saham komoditas logam, tercermin dari indeks basic industrials yang anjlok 4,35%.






















Tinggalkan Balasan