Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa, 12 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengalami penurunan sebesar 0,66 persen atau setara dengan 115 poin, sehingga berada di posisi Rp17.529 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini terutama dipengaruhi oleh faktor eksternal, di mana dolar AS semakin menguat. Kondisi geopolitik yang tidak menentu turut memperberat tekanan terhadap rupiah. Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa negosiasi untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih rapuh.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi kritis setelah Iran menolak tawaran perdamaian dari Amerika Serikat. Selain itu, Trump mengumumkan rencana meminjam 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis AS untuk menekan kenaikan harga minyak dunia yang terus melonjak.
Sementara itu, Trump juga menjatuhkan sanksi terhadap tiga individu dan sembilan perusahaan yang berbasis di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman. Sanksi tersebut diberikan atas tuduhan memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok, menurut Ibrahim.
Kondisi geopolitik semakin memanas dengan laporan serangan militer dari Uni Emirat Arab ke kilang minyak Iran di Pulau Lavan. Media Amerika Serikat, Wall Street Journal, melaporkan bahwa serangan tersebut belum diakui secara resmi oleh Uni Emirat Arab.
Dari sisi ekonomi, pelaku pasar menantikan data Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat yang akan dirilis malam ini. Inflasi bulanan di AS diperkirakan melambat menjadi 0,6 persen dari sebelumnya 0,9 persen. Namun, inflasi tahunan diprediksi naik dari 3,3 persen menjadi 3,7 persen di April 2026, sementara inflasi inti tahunan juga diperkirakan meningkat dari 2,6 persen menjadi 2,7 persen.
Di dalam negeri, Ibrahim menilai sejumlah data ekonomi belum cukup kuat untuk menahan pelemahan rupiah. Ketidakpastian kebijakan fiskal menjadi salah satu kekhawatiran pasar, terutama terkait pengenaan royalti atas hasil tambang dan belum jelasnya strategi penambahan pendapatan negara di tengah belanja pemerintah yang besar.
Pelaku pasar juga mencermati potensi perubahan bobot Indonesia dalam indeks global yang diumumkan oleh penyedia indeks MSCI. Ibrahim menyatakan bahwa ada kemungkinan penurunan bobot Indonesia dalam indeks tersebut, yang bisa berdampak tambahan pada nilai tukar rupiah.
Dengan berbagai tekanan dari kondisi geopolitik dan ekonomi global maupun domestik, rupiah ditutup melemah di level Rp17.529 per dolar AS. Pasar masih menunggu perkembangan data dan kebijakan selanjutnya yang dapat memberikan arah bagi pergerakan nilai tukar dalam waktu dekat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan