Media Kampung – Malam 1 Suro yang jatuh pada Senin, 15 Juni 2026, menjadi momen sakral bagi masyarakat Jawa, khususnya di Solo dan Jawa Timur. Perayaan tahun baru Jawa ini identik dengan berbagai tradisi, mulai dari kirab pusaka di Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran, laku tapa bisu, hingga amalan minum susu putih. Polda Jawa Timur pun melakukan penyekatan dan melarang konvoi untuk menjaga keamanan.
Kirab Malam 1 Suro 2026 di Solo akan digelar pada Selasa, 16 Juni 2026 malam. Prosesi dari Pura Mangkunegaran dimulai sekitar pukul 19.30 WIB, sementara dari Keraton Surakarta berlangsung dengan rute mengelilingi kawasan luar benteng keraton. Ribuan warga diperkirakan memadati ruas jalan untuk menyaksikan tradisi yang penuh nilai filosofi ini.
Salah satu aspek yang paling khas dari kirab di Pura Mangkunegaran adalah tapa bisu. Peserta kirab berjalan tanpa alas kaki dan tanpa berbicara, sebagai bentuk pengendalian diri dan introspeksi. Keheningan bukan sekadar aturan, melainkan laku batin untuk merenungkan perjalanan hidup selama setahun. Filosofi ini mengajarkan bahwa diam menjadi ruang untuk menenangkan batin dan pulang ke diri sendiri.
Di sisi lain, tradisi minum susu putih pada malam 1 Suro juga banyak dijalankan masyarakat. Amalan ini berasal dari ajaran Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki dan dimaknai sebagai tafa’ul atau mengharap pertanda baik. Warna putih susu melambangkan kesucian dan kebersihan hati. Para ulama menegaskan bahwa tradisi ini diperbolehkan dalam Islam, meskipun bukan sunnah Rasulullah SAW.
Selain ritual, kuliner khas juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Malam 1 Suro di Solo. Bubur Suro, Kue Apem, dan Sego Golong adalah tiga hidangan sakral yang wajib hadir. Bubur Suro melambangkan rasa syukur, Kue Apem (dari kata Afwun yang berarti maaf) menjadi simbol permohonan maaf, dan Sego Golong melambangkan persatuan. Makanan-makanan ini biasanya disajikan secara gotong royong dan dimakan bersama untuk mempererat silaturahmi.
Sementara itu, Polda Jawa Timur melakukan pengamanan ketat dengan melakukan penyekatan di sejumlah titik perbatasan kota. Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, menyatakan bahwa personel juga ditambah untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan, terutama dari kelompok perguruan silat yang kerap menggelar konvoi. Imbauan agar tidak melakukan konvoi yang mengganggu pengguna jalan juga disampaikan kepada para peserta.
Dengan berbagai tradisi dan pengamanan yang ketat, Malam 1 Suro 2026 diharapkan berjalan khidmat dan kondusif, menjadi momen refleksi dan penguatan budaya bagi masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan