Media KampungMalinau, sebuah wilayah di Kalimantan Utara yang dikenal sebagai daerah perbatasan, membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan halangan dalam membangun budaya literasi yang kuat. Melalui upaya bersama berbagai pihak, daerah ini berhasil meningkatkan minat baca dan membangun ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bekerja sama dengan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) menggelar acara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi” di Malinau. Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menekankan bahwa literasi menjadi pondasi penting dalam pengembangan sumber daya manusia dan pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Hafidz menyatakan bahwa visi Pendidikan Bermutu untuk Semua yang digagas Mendikdasmen Abdul Mu’ti bertujuan agar layanan pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Pilar utama pendidikan yang meliputi guru, sarana memadai, dan pembelajaran bermakna, didukung oleh peran literasi yang tidak hanya meliputi kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memahami isi bacaan secara mendalam.

Data menunjukkan bahwa Indeks Kegemaran Membaca di Kalimantan Utara mencapai angka 58,89, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Prestasi ini tidak datang secara kebetulan, melainkan hasil kerja keras dan sinergi antara masyarakat dan pemerintah, khususnya di Kabupaten Malinau. Bunda Literasi Malinau, Maylenty Wempi, menjelaskan bahwa gerakan literasi di daerah ini dibangun melalui semangat gotong royong dengan pendekatan berbasis keluarga.

Maylenty menuturkan bahwa keluarga menjadi titik strategis untuk menumbuhkan budaya baca, sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk INOVASI, memperkuat kesadaran pentingnya literasi sejak usia dini. Selain itu, pengembangan literasi di Malinau juga memperhatikan keberagaman budaya dan bahasa lokal dari 11 suku asli yang ada di wilayah tersebut, sehingga pendekatan yang digunakan lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Gerakan literasi di Malinau melibatkan berbagai sektor hingga tingkat desa dan RT, yang mendorong peningkatan jumlah pegiat literasi serta Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Sejak 2020, jumlah TBM meningkat drastis dari hanya 5 menjadi 96 unit pada 2026, sementara pegiat literasi bertambah dari 11 menjadi sekitar 768 orang. Hal ini menandakan keberhasilan kolaborasi dalam memperkuat ekosistem literasi secara inklusif dan berkelanjutan.

Contoh nyata keberhasilan ini terlihat di TBM Lasan Baca, sebuah taman bacaan sederhana di desa yang menjadi tempat anak-anak belajar sambil bermain. TBM yang didirikan pada 2024 ini memulai kegiatannya karena keprihatinan para guru dan relawan yang menemukan masih banyak anak sekolah dasar dan SMP yang belum lancar membaca.

Zsazsa Suharningtyas, guru sekaligus pegiat literasi di SMPN 3 Malinau Selatan Hilir, menyampaikan bahwa pendekatan belajar di TBM Lasan Baca dibuat menyenangkan dengan kegiatan bermain dan bercerita. Bantuan buku bacaan bermutu dari Badan Bahasa melalui Perpustakaan Nasional juga sangat membantu proses belajar di TBM tersebut. Buku-buku yang disediakan memiliki cerita yang dekat dengan kehidupan lokal, sehingga anak-anak lebih antusias dalam membaca.

Perubahan positif mulai terlihat, salah satu anak didik yang sebelumnya kesulitan membaca kini berhasil menjadi salah satu siswa terbaik di kelas. Saat ini, TBM Lasan Baca melayani 65 anak aktif dengan dukungan 12 relawan. Meski berada di daerah dengan berbagai keterbatasan, semangat para pegiat literasi tetap tinggi, berupaya memberi dampak positif bagi masa depan anak-anak di desa tersebut.

Semangat dan inovasi yang muncul dari Malinau membuktikan bahwa dengan kolaborasi dan pendekatan yang tepat, keterbatasan geografis tidak menjadi hambatan dalam membangun budaya literasi yang kuat. Upaya tersebut menjadi contoh bagi daerah lain, khususnya wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dalam memperkuat pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia melalui literasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.