Media Kampung – Ruang pamer Galeri Nasional Indonesia pada Sabtu siang, 16 Mei 2026, menjadi saksi pertunjukan unik bertajuk Mamasak Asa yang mengangkat kisah Gunung Marapi melalui sulaman, bunyi, dan memori kolektif Minangkabau. Seniman bunyi asal Lasi, Sumatra Barat, Rani Jambak, menggabungkan tradisi sulam Minangkabau dengan teknologi audio dalam sebuah performans yang menghadirkan pengalaman meditatif bagi pengunjung pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4.
Dalam pertunjukan tersebut, Rani tidak menggunakan alat musik konvensional. Ia menyulam di atas kain tembaga EMF anti-radiasi yang tersambung pada perangkat elektronik, sehingga setiap tusukan jarum menghasilkan suara yang langsung diproses menjadi komposisi audio. Bunyi dari sulaman berpadu dengan rekaman pembacaan naskah Tambo Alam Minangkabau, menjadikan ruang galeri berubah menjadi lanskap suara yang intim dan penuh makna.
Karya ini merupakan pengembangan dari instalasi multimedia interaktif berjudul Pamedangan yang sudah dipamerkan sejak April 2026 dalam IWA #4. Rani mengusung perpaduan sulam tradisional Suji Caia dengan teknologi modern untuk menampilkan motif Gunung Marapi, yang dianggap sebagai pusat asal-usul budaya Minangkabau. Ia menjelaskan bahwa gunung tersebut bukan sekadar fenomena fisik, melainkan bagian dari memori kolektif masyarakatnya.
Pengalaman tinggal di kaki Gunung Marapi di Kabupaten Agam memberikan inspirasi bagi Rani untuk merespons aktivitas vulkanik yang meningkat dengan karya seni. Ia menyatakan, “Ketika mendengar ledakan dan melihat abu vulkanik yang begitu tinggi, ada rasa kecil di hadapan alam. Tapi justru dari situ saya merasa perlu meresponsnya melalui karya.” Narasi sejarah dan spiritual dalam Tambo Alam Minangkabau yang dibacakan secara perlahan menambah kekuatan ritualis pertunjukan.
Lebih dari sekadar eksplorasi artistik, karya Rani juga menyentuh sejarah perempuan Minangkabau melalui jejak Rohana Kudus, jurnalis perempuan pertama Indonesia yang mendirikan Rumah Kerajinan Amai Setia pada 1915. Rumah tersebut menjadi ruang belajar perempuan untuk mengasah keterampilan menyulam sekaligus memberdayakan ekonomi. Rani melihat semangat itu terus berlanjut dalam karyanya sebagai bentuk pelestarian pengetahuan dan solidaritas perempuan lintas generasi.
Kolaborasi dengan penyulam tradisional dari Koto Tuo, seperti Essy Hariya, memperkuat upaya menjaga tradisi sulam yang diwariskan secara turun-temurun. Rani ingin menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang statis melainkan dapat hidup dan berkembang melalui medium seni kontemporer dan teknologi. Aktivitas menyulam yang selama ini dianggap domestik kini menjadi sumber suara dan ekspresi musikal yang membawa pesan mendalam.
Pameran IWA #4 sendiri merupakan wadah bagi perupa perempuan Indonesia untuk mengeksplorasi hubungan antara seni, teknologi, budaya, tubuh, dan lingkungan. Dalam konteks itu, karya Rani menjadi salah satu bentuk penting yang menghubungkan pengetahuan perempuan, tradisi lokal, dan inovasi teknologi dalam bahasa artistik baru. Ketua Yayasan Cemara Enam, Inda C. Noerhadi, menyebut pameran ini mengangkat perjalanan perempuan perupa Indonesia lintas generasi.
Melalui Mamasak Asa, Rani Jambak mengajak publik mendengarkan ulang ikatan manusia dengan alam dan akar budaya mereka. Karya ini menghadirkan cara baru dalam merawat ingatan kolektif secara perlahan, penuh ketelitian, dan meninggalkan kesan mendalam. Pertunjukan ini sekaligus menegaskan bahwa tradisi dan teknologi bisa bersinergi untuk menciptakan pengalaman artistik yang bermakna dan relevan di masa kini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan