Media Kampung – Di Gang Mahardika RW 007 Suko, Kelurahan Jogoyudan, Kabupaten Lumajang, aktivitas pembuatan kerupuk tradisional menjadi denyut ekonomi yang hidup dan lestari. Pada Selasa, 12 Mei 2026, kawasan ini resmi ditetapkan sebagai Kampung Kerupuk, sebuah pengakuan atas usaha warga yang telah berlangsung hampir satu abad dan menjadi simbol ekonomi berbasis warisan budaya.

Peresmian Kampung Kerupuk Jogoyudan dilakukan oleh Bupati Lumajang, Indah Amperawati, bersama Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma, dalam rangka program Setormadu (Sehari Ngantor di Kecamatan Terpadu) yang bertujuan memperkuat ekonomi lokal melalui kearifan budaya setempat. Penetapan ini bukan sekadar formalitas, melainkan penghargaan atas perjalanan panjang warga yang mempertahankan tradisi pembuatan kerupuk secara turun-temurun.

Proses produksi kerupuk di kampung ini terbilang unik karena masih menggunakan metode tradisional yaitu pematangan kerupuk menggunakan pasir panas sebagai pengganti minyak goreng. Pasir dipanaskan dalam wajan besar hingga suhu tertentu, lalu adonan kerupuk diaduk cepat di antara butiran pasir panas hingga mengembang sempurna. Setelah itu, kerupuk diangkat, dibersihkan, dan dijemur di bawah sinar matahari.

Cara ini tidak hanya menghasilkan cita rasa khas tapi juga merefleksikan pengetahuan lokal yang diwariskan secara berkelanjutan. Suara khas “kres-kres” saat kerupuk diangkat dari pasir panas menjadi bagian dari kehidupan warga di kampung tersebut, menandai aktivitas ekonomi yang terus berjalan.

Sulastri, salah satu pelaku usaha kerupuk berusia 58 tahun, menceritakan bahwa pekerjaan ini sudah ia jalani sejak remaja dengan diajari oleh orang tua. Baginya, kerupuk bukan hanya makanan ringan, melainkan sumber penghidupan sekaligus warisan keluarga yang dijaga dengan penuh kebanggaan.

Bupati Lumajang menegaskan bahwa keberadaan Kampung Kerupuk Jogoyudan membuktikan bahwa ekonomi rakyat dapat bertumpu pada nilai budaya yang kuat. “Ini bukan sekadar usaha rumahan, melainkan warisan budaya yang dijaga masyarakat. Tradisi ini bertahan karena ada nilai ekonomi dan kekompakan sosial yang tetap terpelihara,” ujarnya.

Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma menambahkan bahwa kekuatan utama kampung ini adalah solidaritas warga yang tinggi. Gotong royong menjadi kunci agar usaha kecil seperti ini mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Dalam proses produksi, warga saling bergotong royong mulai dari menyiapkan adonan, menggoreng dengan pasir panas, hingga menjemur kerupuk secara bersama-sama.

Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi warga lanjut usia untuk tetap produktif tanpa harus meninggalkan lingkungan rumah. Sulastri menyebut bahwa bekerja bersama membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan cepat selesai, sekaligus menjaga kebersamaan yang telah terjalin lama di kampung itu.

Pemerintah Kabupaten Lumajang melihat potensi Kampung Kerupuk Jogoyudan sebagai contoh ekonomi berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan. Dengan penguatan merek dan dukungan pengembangan, kampung ini diharapkan bisa menjadi penggerak ekonomi yang kuat tanpa bergantung pada modal besar atau teknologi modern.

Di gang kecil tersebut, proses pembuatan kerupuk masih mengandalkan tangan-tangan warga yang terampil dan tradisi turun-temurun. Produksi kerupuk yang dimulai dari pasir panas hingga penjemuran di bawah matahari menjadi simbol ketahanan ekonomi sekaligus identitas budaya masyarakat Jogoyudan.

Penetapan Kampung Kerupuk Jogoyudan sebagai kampung tematik menandai pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi lokal. Hingga saat ini, aktivitas produksi kerupuk terus berjalan tanpa henti, menunjukkan bahwa tradisi lama dapat bertahan dan berkontribusi pada kehidupan masyarakat modern.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.