Media Kampung – Banyak perempuan mengeluhkan bahwa sesama perempuan kerap kali lebih tajam dalam menghakimi dibandingkan pria, terutama dalam hal penampilan, pilihan hidup, dan hubungan. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari budaya patriarki yang menanamkan standar dan tuntutan ketat kepada perempuan sejak kecil.

Budaya patriarki membentuk cara pandang perempuan terhadap diri sendiri dan sesamanya dengan mengharuskan mereka menjadi “perempuan baik” yang sopan, lembut, dan menjaga penampilan agar diterima oleh lingkungan sosial. Sementara laki-laki cenderung diberi kebebasan lebih luas dan dianggap wajar jika berbuat salah dalam batas tertentu.

Perempuan tumbuh dalam pengawasan sosial yang ketat terkait tubuh dan penampilan. Mereka diajarkan untuk berpakaian sopan, tidak berlebihan menggunakan makeup, dan menghindari perilaku yang dianggap dapat mengundang perhatian laki-laki secara negatif. Beban untuk mengontrol perilaku laki-laki justru jarang menjadi perhatian, sehingga perempuan menanggung tekanan lebih besar.

Tekanan ini membuat perempuan selalu merasa harus menjaga citra diri agar tidak dianggap tidak pantas atau menyimpang dari standar sosial. Penampilan dan sikap perempuan sering menjadi ukuran moral dalam masyarakat, sehingga mereka terbiasa menilai diri berdasarkan bagaimana orang lain melihatnya. Dari sini, budaya membandingkan dan menghakimi sesama perempuan mulai tumbuh.

Teori Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex menjelaskan bahwa perempuan dalam budaya patriarki diposisikan sebagai “the Other” atau pihak kedua yang dinilai dari standar sosial, bukan sebagai individu bebas. Perempuan didorong menjadi sosok yang sesuai harapan masyarakat, bukan menjadi diri sendiri secara bebas.

Seiring bertambahnya usia, perempuan dihadapkan pada standar kecantikan yang semakin ketat dan berubah mengikuti tren. Kulit harus cerah, tubuh langsing, dan wajah mulus menjadi simbol diterimanya seseorang dalam pergaulan. Hal ini membuat perempuan merasa perlu memenuhi standar tersebut agar mendapat pengakuan sosial, yang mendorong persaingan dan perbandingan antar sesama perempuan.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini terlihat dari besarnya pengeluaran perempuan untuk produk kecantikan dan perawatan tubuh demi mengejar standar ideal. Media sosial juga memperkuat standar ini dengan mempromosikan konsep seperti body goals dan wajah sempurna sebagai tolok ukur nilai perempuan.

Ironisnya, perempuan yang menolak mengikuti standar kecantikan juga tak luput dari kritik. Mereka yang memilih tampil alami dan sederhana sering dikomentari negatif oleh sesama perempuan, seperti dianggap kurang merawat diri atau terlalu “berlebihan” jika memakai makeup. Situasi ini menempatkan perempuan dalam posisi sulit, di mana apapun pilihan mereka, tetap ada penghakiman dari lingkungan, termasuk dari perempuan lain.

Hal ini juga terjadi dalam konteks relasi sosial dan percintaan sejak masa remaja. Perhatian dari laki-laki populer sering dijadikan ukuran status sosial, sehingga perempuan berlomba menjaga penampilan dan citra agar dianggap lebih menarik dibanding yang lain. Lingkungan sosial secara tidak langsung mendorong persaingan perempuan demi mendapatkan pengakuan dan perhatian laki-laki tertentu.

Di lingkungan akademik, fenomena “kampus cantik” juga memperlihatkan bagaimana perempuan masih sering dinilai dari penampilan fisik. Konten media sosial yang menampilkan mahasiswi sebagai objek visual dengan label tertentu memperkuat budaya penilaian berbasis fisik, sementara fokus utama kampus seharusnya pada prestasi dan pengembangan intelektual.

Perempuan sendiri sering terlibat dalam budaya penghakiman ini dengan saling membandingkan dan mengomentari penampilan sesama. Komentar negatif seperti “kok sekarang gemukan?” atau “kulitnya gelap” bukan hal yang jarang terdengar, bahkan kalimat-kalimat yang menghakimi juga muncul dalam kasus pelecehan seksual terhadap korban perempuan.

Kritik terhadap korban pelecehan sering datang dari sesama perempuan yang menilai korban dari cara berpakaian atau tempat keberadaan saat kejadian, bukan menyoroti tindakan pelaku. Sikap ini memperkuat budaya victim blaming yang membuat korban merasa takut dan enggan melapor karena khawatir mendapat penghakiman sosial.

Istilah seperti “pelakor” yang melekat pada perempuan dianggap merebut pasangan orang lain juga menunjukkan ketimpangan perlakuan. Sebaliknya, laki-laki yang melakukan hal serupa tidak mendapat stigma sekeras itu. Penghakiman moral lebih cepat diarahkan kepada perempuan, dan hal ini sering dipertahankan oleh sesama perempuan tanpa disadari.

Fenomena saling menghakimi antar perempuan bukanlah sifat alami, melainkan hasil dari konstruksi sosial yang menanamkan standar sempit tentang bagaimana perempuan harus bersikap dan tampil. Perempuan tumbuh dengan tekanan memenuhi ekspektasi dan pengakuan lingkungan, sehingga terbiasa membandingkan diri dengan perempuan lain dan menjaga standar tersebut dalam interaksi sosial.

Simone de Beauvoir menegaskan bahwa perempuan dalam masyarakat patriarki selalu dinilai berdasarkan penerimaan sosial, bukan sebagai individu merdeka. Oleh karena itu, standar sosial ini diwariskan dan dipertahankan oleh perempuan sendiri, yang membuat budaya saling menjatuhkan terus berulang dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika ada perempuan yang dianggap lebih menarik, sukses, atau berbeda dari norma, penghakiman dan komentar negatif mudah muncul. Perempuan menjadi korban sekaligus pelaku dalam meneruskan budaya patriarki yang membatasi ruang gerak dan kebebasan mereka sendiri. Oleh sebab itu, memahami fenomena ini harus dilihat dari perspektif budaya dan sosial, bukan hanya persoalan individual semata.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.