Media Kampung – Dusun Patoman Tengah yang dikenal sebagai Dusun Balian di Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, kini menjadi sorotan karena kemampuannya menjaga tradisi lokal melalui seni budaya sekaligus mengembangkan potensi ekonomi yang unik, termasuk budidaya Cabai Jawa yang telah menembus pasar internasional hingga Jepang.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyatakan, keberadaan pusat seni budaya di dusun tersebut sangat penting untuk melestarikan tradisi yang ada sekaligus menjadi ruang kreativitas bagi generasi muda. Mayoritas penduduk Dusun Patoman Tengah memeluk agama Hindu, sehingga suasana toleransi dan keberagaman sangat kental di sana.
Selain itu, rumah-rumah warga di dusun ini memiliki arsitektur yang menyerupai rumah tradisional di Pulau Bali, dilengkapi dengan keberadaan pura yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat kegiatan seni dan budaya masyarakat setempat. Anak-anak dan remaja rutin belajar tari tradisional, gamelan, serta berbagai kesenian daerah yang menjadi bagian dari identitas budaya dusun ini.
Bupati Ipuk juga menyoroti keberadaan pelaku UMKM kreatif di Dusun Patoman yang berkembang pesat, salah satunya adalah usaha seni ukir kayu dan pasir milik Kayan Suartana. Kayan sudah merintis usahanya sejak tahun 2000 sembari aktif berkesenian di bidang tari dan musik tradisional. Dedikasinya dalam melestarikan budaya melalui seni ukir pernah mendapatkan penghargaan tali kasih dari mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada 2015.
Produk kerajinan Kayan beragam, mulai dari ornamen rumah hingga patung artistik yang bahan bakunya berasal dari kayu dan pasir pantai. Hasil karyanya sudah dipasarkan meluas hingga Bali, Nganjuk, bahkan Jawa Tengah, membuktikan potensi ekonomi dan seni yang luar biasa dari dusun tersebut.
Tidak hanya mengandalkan seni dan budaya, Dusun Patoman juga dikenal mulai mengembangkan budidaya Cabai Jawa atau Cabai Puyang yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Hal ini menjadi tambahan sumber penghasilan bagi warga dan membuka peluang pasar lebih luas hingga internasional, termasuk Jepang.
Kepala Dusun Patoman Tengah, I Gede Yuda Permana, menyatakan masyarakatnya hidup berdampingan secara harmonis dan saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial. Dusun ini mendapat julukan Kampung Pancasila karena toleransi antarumat beragama yang terus terjaga. Ketika umat Hindu mengadakan kegiatan, warga dari agama lain turut berpartisipasi dan sebaliknya.
Keberadaan Pura Desa di dusun ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi menjadi pusat aktivitas seni dan budaya yang menghidupkan tradisi lokal. Anak-anak hingga remaja secara rutin belajar berbagai kesenian tradisional yang menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya Banyuwangi.
Perkembangan seni, budaya, dan budidaya cabai di Dusun Patoman Tengah menunjukkan bagaimana sebuah komunitas mampu melestarikan warisan leluhur sekaligus berinovasi mengembangkan potensi ekonomi yang berkelanjutan. Ini menjadi contoh nyata bagaimana tradisi lokal dapat tetap hidup dan berkembang di era modern.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan