Media Kampung – Dalam rangka memperingati Kenaikan Yesus Kristus, gereja-gereja di Kabupaten Belu menghadirkan nuansa budaya lokal dalam pelaksanaan ibadah tahun ini. Pendekatan ini menjadi bagian dari tradisi ibadah yang berlangsung sejak Jumat Agung hingga hari Paskah.
Ketua Gerakan Anak Muda Kristen Indonesia, Paulus Adi Adu, menjelaskan bahwa setiap jemaat memiliki kebijakan tersendiri dalam menjalankan ibadah. Namun, pada tahun ini, Gereja Polikarpus memilih menggelar satu kali misa yang bertepatan dengan Bulan Budaya yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.
Unsur budaya Belu dan Malaka diintegrasikan ke dalam liturgi serta nyanyian selama ibadah berlangsung. Selain itu, busana para jemaat juga disesuaikan dengan pakaian adat dari daerah setempat, sehingga menciptakan perpaduan unik antara tradisi lokal dan nilai-nilai ajaran Alkitab.
Paulus menyatakan bahwa perpaduan antara budaya lokal dan ibadah ini memberikan pengalaman berbeda yang hanya terjadi setahun sekali di lingkungan gereja. Hal ini juga menjadi bentuk pelestarian budaya melalui kegiatan keagamaan.
Sementara itu, di Kabupaten Waropen, Jemaat GKI Betania Waren juga tengah mempersiapkan perayaan Kenaikan Yesus Kristus dengan suasana penuh sukacita. Sekretaris Jemaat GKI Betania Waren, Abner Demianus Dori, mengajak seluruh warga gereja untuk aktif berpartisipasi agar ibadah dapat berjalan lancar dan hikmat.
Seluruh rangkaian kegiatan ibadah di kedua daerah ini menunjukkan bagaimana tradisi keagamaan di Indonesia bisa dikembangkan dengan melibatkan kearifan lokal. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual umat, tetapi juga menjaga keberlanjutan budaya daerah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan