Media Kampung – 14 April 2026 | Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menekankan pentingnya memperkuat ekosistem seni Reog Ponorogo setelah resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO.
Penegasan tersebut disampaikan saat menerima Tim Reog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada minggu lalu, menjelang persiapan Festival Reog Nasional Ponorogo (FRNP) 2026.
Khofifah menegaskan bahwa Reog bukan sekadar pertunjukan, melainkan representasi nilai, filosofi, dan identitas bangsa yang harus dipertahankan.
“Reog membawa filosofi keberanian, kebenaran, serta keberagaman suku dan agama yang terjalin dalam harmoni budaya,” ujarnya.
“Yang lebih penting dari festival adalah filosofinya. Reog berisi substansi strategis untuk membangun karakter dan kebijakan negara,” tambahnya.
Pengakuan UNESCO masuk dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding pada akhir 2024, menambah urgensi langkah konkret bagi pelestarian.
Khofifah mengingatkan perlunya upaya konkret, mulai dari pelestarian, regenerasi, hingga keberlanjutan pertunjukan Reog.
“Proses menuju pengakuan UNESCO sangat panjang. Salah satu fokus utama adalah kesejahteraan hewan, memastikan tidak ada material satwa dilindungi dalam pertunjukan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ekosistem Reog kini berkembang seiring dengan status Ponorogo sebagai Kota Kreatif Dunia UNESCO.
Momentum tersebut menjadi peluang untuk memperkuat eksistensi Reog sebagai identitas budaya yang mendunia.
Gubernur menegaskan keberlanjutan memerlukan regenerasi pelaku seni serta penyelenggaraan event budaya secara rutin.
“Harus sering ada pentas dan event, supaya mereka terus berlatih dan regenerasinya berjalan maksimal,” kata Khofiah.
Awalnya partisipasi dapat dipicu insentif, namun rasa bangga akan menumbuhkan dedikasi pelestarian.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, menyampaikan kolaborasi dengan institusi pendidikan dan komunitas seni.
Kerjasama melibatkan STKW, SMK 12 Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, serta sanggar-sanggar Reog untuk pelatihan dan kreativitas.
Disbudpar Jatim juga menjalin kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk melestarikan satwa, khususnya burung merak Jawa.
“Kami sedang menjajaki pengembangbiakan merak Jawa sebagai solusi keberlanjutan, mengingat keterbatasan material tradisional,” ungkapnya.
Perwakilan Tim Reog Kyai Lodra, Joko Winarko, mengapresiasi dukungan pemerintah provinsi terhadap pelestarian tradisi.
“Pertemuan ini menjadi momentum untuk mempresentasikan hasil karantina latihan dua bulan. FRNP bukan sekadar kompetisi, melainkan kebanggaan generasi muda,” ujarnya.
Acara tersebut diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan ramah tamah, menandai kehangatan hubungan antara pemerintah dan seniman.
Khofifah juga menyediakan dana pembinaan sebesar Rp 25 juta untuk persiapan tim menuju FRNP 2026.
Langkah ini menegaskan komitmen Pemprov Jatim menjaga Reog bukan hanya sebagai warisan, melainkan identitas bangsa yang hidup.
Penguatan ekosistem diharapkan menciptakan jalur produksi kostum, musik, dan atribut lain yang ramah lingkungan.
Upaya ini sejalan dengan kebijakan nasional tentang pelestarian budaya serta perlindungan satwa liar.
Selain itu, program edukasi di sekolah-sekolah daerah diharapkan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Reog.
Pelatihan intensif bagi penari, musisi, dan pembuat kostum dijadwalkan berlangsung sepanjang tahun 2025.
Penguatan jaringan distribusi bahan baku alternatif, seperti serat sintetis yang menyerupai bulu merak, sedang dalam tahap uji coba.
Jika berhasil, penggunaan bahan ini dapat mengurangi tekanan pada populasi satwa dilindungi.
Kondisi terbaru menunjukkan peningkatan partisipasi komunitas lokal dalam persiapan FRNP, dengan lebih dari 150 pelaku seni terlibat.
Dengan dukungan finansial, teknis, dan kebijakan, Reog Ponorogo diproyeksikan menjadi contoh sukses pelestarian budaya takbenda di tingkat global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.













Tinggalkan Balasan