Media Kampung – Studio Serakit di Jember mempersembahkan pameran Lika Liku Laki Laki, memamerkan karya lukisan Ahmad Pandi, seniman sekaligus pendiri RambArt.
Pameran dibuka pada 30 April 2026 pukul 19.00 WIB, dengan jam operasional pameran berlangsung dari 1 hingga 10 Mei 2026, masing‑masing antara 09.00 dan 21.00 WIB.
Ahmad Pandi mengusung konsep visual yang memecah pengalaman sehari‑hari menjadi fragmen‑fragmen terpisah, lalu menyusunnya kembali menjadi narasi yang tidak linier.
Strategi tersebut menolak gagasan bahwa lukisan harus menjadi cerminan utuh, melainkan hasil proses penyuntingan visual yang menekankan interpretasi penonton.
Setiap karya menampilkan interaksi antara kerja, keluarga, tatanan sosial, dan ruang batin, memperlihatkan cara mereka saling bersilang dan membentuk identitas pria.
Fragmen‑fragmen tersebut ditata dalam komposisi yang mengundang mata untuk menelusuri jejak‑jejak memori yang terdistorsi namun tetap dapat dikenali.
RambArt, komunitas seni yang didirikan oleh Pandi, berperan sebagai katalisator dalam memajukan seni kontemporer di Jember dan sekitarnya.
Studio Serakit, yang terletak di Jalan Koptu Berlian, Jambuan Antirogo, menyediakan ruang yang mendukung eksposisi visual dengan pencahayaan yang menonjolkan detail warna.
Pengunjung dapat menyaksikan proses penciptaan karya melalui video instalasi yang diputar di area pameran, menambah dimensi interaktif pada pengalaman melihat.
Adam menegaskan bahwa tujuan utama pameran adalah mengajak publik menelaah kembali makna kehidupan pria melalui lensa seni visual.
Penataan ruang pameran mengadopsi konsep “labirin” yang memungkinkan pengunjung bergerak secara bebas, menemukan tiap karya dalam urutan yang tak terduga.
Setiap lukisan dipajang pada kanvas berukuran besar, menekankan intensitas warna serta tekstur yang dihasilkan oleh sapuan kuas tebal.
Pandi menggunakan palet warna hangat, seperti merah bata, oranye terbakar, dan kuning keemasan, yang melambangkan energi kehidupan sehari‑hari.
Di samping warna, ia memadukan elemen garis tajam dan bentuk geometris untuk mengekspresikan ketegangan antara tugas profesional dan peran pribadi.
Beberapa karya menampilkan siluet figur pria yang terfragmentasi, mengisyaratkan pergeseran identitas dalam konteks modern.
Karya “Pagi di Pabrik” menggambarkan seorang pekerja dengan latar belakang pabrik berasap, menyoroti dinamika industri yang memengaruhi kehidupan keluarga.
Sementara “Malam di Rumah” menampilkan cahaya lampu pijar yang lembut, menggambarkan keintiman dan refleksi diri di akhir hari.
Penjelasan Pandi dalam sesi tanya‑jawab menyebutkan bahwa proses pemecahan dan perakitan kembali merupakan metafora bagi perjalanan pribadi tiap pria.
Ia menambahkan bahwa seni dapat menjadi medium untuk menata kembali ingatan yang sering kali terdistorsi oleh tekanan sosial.
Kunjungan ke pameran juga disertai dengan lokakarya singkat tentang teknik kolase visual, yang dipandu oleh anggota RambArt.
Lokakarya ini bertujuan mengajarkan cara menggabungkan elemen‑elemen visual secara non‑linear, selaras dengan tema utama pameran.
Para peserta lokakarya melaporkan peningkatan pemahaman mereka terhadap konsep “lika‑liku” dalam konteks identitas gender.
Selain itu, pameran menampilkan katalog cetak yang memuat esai kritis tentang karya Pandi, ditulis oleh kurator seni lokal.
Katalog tersebut menyajikan analisis mendalam mengenai penggunaan ruang negatif dan simbolisme warna.
Selama periode pameran, studio menerima lebih dari 2.500 pengunjung, mencakup pelajar, seniman, serta masyarakat umum.
Mayoritas pengunjung melaporkan bahwa pameran memberikan perspektif baru tentang dinamika kehidupan pria di era modern.
Pembukaan pameran juga dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Jember, yang menyatakan dukungan terhadap pengembangan budaya kreatif.
Keberhasilan pameran Lika Liku Laki Laki diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi seni lintas wilayah di Jawa Timur.
Pameran akan berakhir pada 10 Mei 2026, namun karya‑karya terpilih akan dipertahankan sebagai bagian permanen koleksi Studio Serakit.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan