Media Kampung – Keraton Yogyakarta akan menggelar pagelaran wayang kulit langka pada malam 1 Suro atau Selasa, 16 Juni 2026. Pertunjukan bertajuk Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog Cariyos Panji Lampahan “Jaya Berdangga” ini digelar sebelum acara Mubeng Beteng di Alun-Alun Kidul Yogyakarta.

Pagelaran ini merupakan persembahan dari Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Wayang kulit gedhog yang jarang dipentaskan ini akan berlangsung selama empat jam, mulai pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB di Bangsal Kamandungan Kidul. Dalang yang akan memimpin pertunjukan adalah MB. Cermo Wignyoutomo.

Makna di Balik Pagelaran

Menurut MB. Cermo Gupito, Abdi Dalem Dalang Kawedanan Kridhamardawa, pagelaran wayang ini dimaksudkan sebagai “sangu” atau bekal untuk introspeksi diri. “Pementasan wayang dalam rangka mencari sangu untuk introspeksi diri, karena tentu saja dalam gelaran cerita wayang banyak falsafah kehidupan yang termuat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (14/6).

Usai menyaksikan wayang gedhog dan mendapatkan bekal refleksi, rangkaian dilanjutkan dengan Mubeng Beteng. Kegiatan berjalan mengelilingi benteng ini menjadi bagian dari laku spiritual masyarakat Jawa. “Menempa diri dengan cara berjalan dalam kondisi terdiam, namun di dalam batin tak henti ikhlas berdoa dan berserah diri kepada Sang Pencipta,” jelas Cermo Gupito yang juga pimpinan produksi pementasan.

Jenis Wayang Langka

Wayang gedhog merupakan jenis pertunjukan wayang kulit yang mengangkat cerita Panji, berbeda dengan wayang purwa yang bersumber dari Mahabharata atau Ramayana. Wayang ini termasuk koleksi aset langka milik Keraton Yogyakarta dan kini sangat jarang dipentaskan. Melalui momen ini, diharapkan wayang gedhog kembali dikenal dan dilestarikan.

Lakon “Jaya Berdangga” berkisah tentang penyamaran Raden Panji untuk memenuhi syarat permintaan istrinya yang sedang mengandung, yaitu “Sari Swara Renggani Jagad”. Upaya ini dilakukan demi masa depan Kerajaan Jenggala dan Kediri. Cerita mengisahkan berbagai godaan dan rintangan di Keraton Kediri akibat ulah senopati negara seberang yang menghalangi Raden Panji hingga berani meminang Dewi Sekartaji. Berkat kegigihan, syarat terpenuhi bersamaan dengan lahirnya bayi laki-laki dari Dewi Sekartaji.

“Pemilihan wayang gedhog ini tentunya mempertimbangkan cerita yang tidak kalah menarik dengan wayang purwa. Cariyos Panji Lampahan Jaya Berdangga dipilih karena bobot dan isi cerita sangat kompleks dan erat dengan realitas kehidupan masyarakat Jawa,” tambah Cermo Gupito. Cerita ini mengajarkan perjuangan hidup, kesetiaan, proses produksi gamelan, serta mengingatkan konsep kesuburan Tanah Jawa melalui figur Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji, selaras dengan upaya Keraton Yogyakarta untuk Hamemayu Hayuning Bawana.

Masyarakat dapat menyaksikan pagelaran ini secara langsung dengan busana bebas namun rapi dan sopan, atau melalui kanal YouTube Keraton Yogya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.