Media Kampung, Impor minyak sawit India pada Juni 2026 tercatat turun ke level terendah dalam 14 bulan terakhir, dipicu oleh melemahnya permintaan domestik dan menyempitnya selisih harga minyak sawit dibandingkan minyak nabati pesaing. Penurunan ini berpotensi meningkatkan stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia, sekaligus memberi tekanan terhadap harga kontrak berjangka minyak sawit di Bursa Malaysia.
Berdasarkan estimasi lima pelaku perdagangan yang dikutip dari The Economic Times, impor minyak sawit India sepanjang Juni hanya mencapai 492 ribu metrik ton, turun sekitar 10,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak April 2025.
Tidak hanya minyak sawit, impor minyak nabati lainnya juga mengalami penurunan. Impor minyak kedelai diperkirakan merosot 23 persen secara bulanan menjadi 381 ribu ton, sementara impor minyak bunga matahari turun 17,5 persen menjadi 244 ribu ton, atau level terendah dalam tiga bulan terakhir. Dengan melemahnya seluruh jenis minyak nabati, total impor minyak makan India pada Juni diperkirakan turun 16,6 persen dibandingkan Mei menjadi sekitar 1,1 juta ton. Data tersebut belum memasukkan pasokan bebas bea yang masuk melalui jalur darat dari Nepal.
India merupakan importir minyak nabati terbesar di dunia sekaligus pasar utama bagi ekspor minyak sawit Indonesia dan Malaysia. Penurunan pembelian dari negara tersebut berpotensi meningkatkan persediaan di negara produsen dan memengaruhi pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional.
Managing Partner GGN Research di Rajkot, Gujarat, Rajesh Patel, mengatakan permintaan minyak sawit dalam beberapa bulan terakhir cenderung lemah karena distributor memilih membeli dalam jumlah terbatas sambil menunggu harga turun. Kondisi tersebut mendorong perusahaan penyulingan mengurangi volume impor.
Selain faktor harga, permintaan juga terdampak oleh kelangkaan gas memasak, kenaikan harga gas, serta gelombang panas ekstrem yang melanda India. Sebagai salah satu importir gas memasak terbesar di dunia, India saat ini menghadapi tekanan pasokan energi. Pemerintah setempat mengurangi distribusi gas bagi sektor industri dan menaikkan harga tabung gas komersial guna menjaga pasokan untuk kebutuhan rumah tangga.
Daya tarik minyak sawit juga berkurang karena selisih harganya terhadap minyak kedelai semakin tipis. Seorang pedagang yang berbasis di Mumbai menyebutkan diskon harga minyak sawit kini berada di bawah US$50 per ton, sehingga banyak perusahaan pengolahan memilih bersikap hati-hati dalam melakukan pembelian.
Selama ini India mengimpor sebagian besar minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia, sedangkan minyak kedelai dan minyak bunga matahari dipasok terutama dari Argentina, Brasil, Rusia, dan Ukraina. Penurunan impor India menjadi salah satu indikator yang akan dicermati pelaku pasar dalam beberapa pekan ke depan, mengingat perubahan permintaan dari negara tersebut kerap memberikan pengaruh signifikan terhadap prospek harga minyak sawit global dan kinerja ekspor negara-negara produsen utama.





















Tinggalkan Balasan