Media Kampung – Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) memperkirakan harga rata-rata minyak sawit mentah (CPO) akan tetap bertahan pada level tinggi sepanjang tahun 2026. Proyeksi ini didorong oleh masih kuatnya harga minyak mentah dunia di tengah ketidakpastian geopolitik serta prospek pasokan yang cenderung terbatas.
Direktur Jenderal MPOB, Datuk Dr. Ahmad Parveez Ghulam Kadir, menyatakan bahwa harga rata-rata CPO tahun ini diperkirakan berada pada kisaran RM4.000 hingga RM4.300 per ton. Menurutnya, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz—salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia—telah memengaruhi pasokan minyak bumi global, sehingga memberikan dukungan terhadap harga minyak sawit dan minyak nabati lainnya.
“Jika melihat kondisi saat ini, harga minyak sawit tetap berada pada level yang kuat. Untuk tahun ini kami menargetkan harga rata-rata di kisaran RM4.000 hingga RM4.300 per ton,” ujar Ahmad Parveez usai menghadiri Program Palm Oil Technology Transfer (TOT) 2026 MPOB di Bangi, Selasa (30/6).
Dampak El Niño pada Produksi Sawit
Di sisi lain, industri sawit Malaysia masih menghadapi tantangan produksi akibat dampak lanjutan fenomena El Niño yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Ahmad Parveez menjelaskan bahwa pengaruh El Niño tidak hanya dirasakan saat fenomena berlangsung, tetapi juga memengaruhi produktivitas kebun dalam jangka panjang melalui terganggunya proses penyerbukan alami.
Suhu yang lebih tinggi dan curah hujan yang lebih rendah mengurangi aktivitas kumbang penyerbuk (oil palm weevil) yang berperan penting dalam proses pembentukan buah sawit. Penurunan aktivitas serangga penyerbuk tersebut pada akhirnya dapat mengurangi tingkat penyerbukan dan berdampak terhadap hasil ekstraksi minyak.
“Kami terus memantau dampak pasca-El Niño. Cuaca yang lebih panas memang tidak langsung menurunkan produksi, tetapi dapat memengaruhi aktivitas penyerbukan sehingga produktivitas kebun dan rendemen minyak ikut terdampak,” jelasnya.
Kesiapan Hadapi Regulasi EUDR
Selain membahas prospek harga, MPOB juga menyoroti kesiapan Malaysia menghadapi implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang akan mulai berlaku bagi pekebun kecil pada pertengahan tahun depan. Ahmad Parveez mengungkapkan bahwa lebih dari 80 pekebun kecil di Semenanjung Malaysia telah memenuhi persyaratan awal untuk mematuhi regulasi tersebut.
MPOB menargetkan sekitar 90–95 pekebun kecil yang memiliki lisensi resmi dan status kepemilikan lahan yang jelas dapat terintegrasi ke dalam sistem kepatuhan sebelum implementasi EUDR dimulai. Dengan demikian, minyak sawit yang diproduksi para pekebun tersebut diharapkan tetap dapat memasuki pasar Uni Eropa tanpa menghadapi hambatan regulasi.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Malaysia untuk menjaga daya saing ekspor minyak sawit di tengah semakin ketatnya tuntutan keberlanjutan dari negara-negara tujuan ekspor, khususnya pasar Eropa.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.























Tinggalkan Balasan