Media Kampung – Bank Indonesia (BI) terus mendorong pembiayaan perbankan ke sektor prioritas melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hingga pekan pertama Juni 2026, BI telah mengucurkan dana sebesar Rp 418,1 triliun ke berbagai bank, mulai dari Himbara hingga bank swasta.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam Rapat Dewan Gubernur pada Kamis (18/6) mengungkapkan bahwa penyaluran KLM telah dilakukan secara merata. Bank BUMN menerima alokasi terbesar sebesar Rp 209,6 triliun, disusul Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) sebesar Rp 169,9 triliun, Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar Rp 30,8 triliun, dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) sebesar Rp 7,8 triliun.
Dari total Rp 418,1 triliun tersebut, sebanyak Rp 355,6 triliun dialokasikan melalui lending channel, sementara Rp 62,5 triliun sisanya melalui interest rate channel. Insentif ini menyasar berbagai sektor prioritas, termasuk pertanian, industri, hilirisasi, ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, perumahan, UMKM, koperasi, dan sektor inklusi berkelanjutan.
Ke depan, BI berkomitmen memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif melalui penguatan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM), KLM, dan Rasio Pendanaan Luar Negeri Bank (RPLN). Perry menegaskan bahwa KLM akan terus diperkuat dengan memberikan insentif bagi bank yang meningkatkan pembiayaan non-kredit dan pendanaan non-DPK, serta bagi bank yang menetapkan suku bunga kredit atau pembiayaan sejalan dengan kebijakan BI.
Dengan langkah ini, BI berharap dapat mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor produktif, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan