Media Kampung – Bank Mandiri bersama sejumlah bank nasional seperti BMRI, BBTN, dan BBCA tetap optimis mencapai target penyaluran kredit meskipun Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%. Langkah BI tersebut dinilai sebagai upaya yang tepat guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika pasar saat ini.
Kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin oleh Bank Indonesia mendorong sejumlah bank besar mengumumkan strategi dan target kredit mereka. Bank Mandiri, misalnya, terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga April 2026, Mandiri telah menyalurkan KUR senilai Rp14,54 triliun kepada lebih dari 113 ribu pelaku UMKM di seluruh Indonesia, dengan fokus utama pada sektor produksi dan ketahanan pangan nasional.
SVP Micro Development & Agent Banking Bank Mandiri, Bayu Trisno Arief Setiawan, menyampaikan bahwa kualitas portofolio kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah yang rendah, yakni sekitar 1 persen. Hal ini menegaskan kemampuan Bank Mandiri dalam mengelola risiko secara cermat sekaligus mendukung segmen mikro dan UMKM secara berkelanjutan.
Selain itu, bank berlogo pita emas ini mencatat bahwa penyaluran KUR hingga bulan April didominasi oleh sektor produksi, dengan sektor pertanian sebagai kontributor terbesar mencapai Rp4,69 triliun. Sektor jasa produksi dan industri pengolahan juga mendapat porsi signifikan dalam penyaluran pembiayaan tersebut.
Sementara itu, bank-bank lain seperti BMRI, BBTN, dan BBCA juga menyatakan kesiapan mereka menghadapi skenario kebijakan moneter baru dari BI. Mereka menilai kenaikan suku bunga sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga kestabilan ekonomi makro tanpa mengorbankan pertumbuhan kredit secara keseluruhan.
Meski demikian, pasar modal merespons kebijakan BI dengan tekanan jual yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah. Saham-saham perbankan termasuk BMRI dan BBCA mengalami koreksi seiring sentimen negatif dan kekhawatiran investor akan dampak kenaikan suku bunga terhadap kinerja sektor perbankan.
Fitch Ratings bahkan mengingatkan bahwa peringkat bank Himbara sangat bergantung pada dukungan pemerintah, menandakan potensi risiko jika tekanan fiskal meningkat. Selain itu, kebijakan baru pemerintah yang berdampak pada iklim investasi juga turut mempengaruhi sentimen pasar.
Meski demikian, bank-bank besar tetap berkomitmen untuk menjalankan strategi yang adaptif dan prudent dalam menyalurkan kredit, memastikan dukungan pembiayaan kepada dunia usaha tetap berjalan tanpa mengabaikan pengelolaan risiko. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan dukungan dengan memberikan pengecualian tertentu terkait penghitungan batas maksimum pemberian kredit, khususnya yang dijamin dengan agunan tunai berupa dana devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA).
Dengan berbagai langkah tersebut, Bank Mandiri dan bank-bank nasional lainnya berupaya memastikan target kredit tahun 2026 dapat tercapai meskipun menghadapi tantangan dari kebijakan moneter yang lebih ketat dan kondisi pasar yang dinamis.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan