Media Kampung – Di tengah berkembang pesatnya live commerce, Nadya Marvella Santarini berhasil menyelesaikan studi S1 dengan waktu tercepat di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia lulus setelah menempuh pendidikan selama 3 tahun, 4 bulan, dan 1 hari, dan diwisuda pada Rabu, 21 Mei 2023.
Nadya, yang merupakan mahasiswa Program Studi Psikologi, memilih untuk meneliti fenomena live commerce dalam skripsinya yang berjudul “The Role of Social Influence in Compulsive Buying on Live Commerce: Self Control as the Moderator.” Penelitian ini berfokus pada pengaruh interaksi sosial terhadap perilaku belanja kompulsif di platform live commerce.
Dalam skripsinya, Nadya menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melakukan survei terhadap lebih dari 250 responden. Ia mengaplikasikan beberapa instrumen, seperti Bergen Shopping Addiction Scale (BSAS) dan Consumer Susceptibility to Interpersonal Influence (CSII). Hasil analisis menunjukkan bahwa pengaruh sosial dapat memicu perilaku belanja kompulsif, meskipun kontrol diri tidak memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut.
Nadya mengungkapkan, “Aku meneliti apakah pengaruh orang-orang, baik itu konsumen lain atau host di live commerce, memiliki dampak kepada kecenderungan konsumen untuk jatuh ke compulsive buying.” Penelitian ini berangkat dari maraknya aktivitas belanja yang dipicu oleh interaksi sosial di platform digital.
Selama proses penulisan skripsi, Nadya menghadapi tantangan terutama dalam hal revisi. Ia menilai banyak mahasiswa merasa kehilangan motivasi setelah menghadapi revisi yang berulang. “Banyak teman-temanku merasa stuck setelah revisi yang melelahkan, sehingga kepercayaan diri mereka menurun,” ujarnya.
Namun, Nadya memilih untuk melihat revisi sebagai kesempatan untuk berkembang. Ia aktif berkomunikasi dengan dosen pembimbing untuk menjaga timeline pengerjaan skripsinya. Menurutnya, adanya tenggat waktu sangat penting agar mahasiswa tetap termotivasi.
Selama berkuliah, Nadya juga merasakan pentingnya pengalaman praktis. Salah satu magang yang berkesan adalah di SLA Fredios, sebuah sekolah untuk anak autis di Yogyakarta. Di sana, ia membantu siswa dalam berbagai aktivitas sehari-hari yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian mereka.
Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mendalam tentang tantangan yang dihadapi penyandang autisme dan pentingnya dukungan sosial. Nadya terinspirasi oleh dedikasi guru-guru di sekolah tersebut yang terus mendampingi meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
Selain itu, Nadya juga magang di Kementerian Kelautan dan Perikanan, di mana ia meneliti kondisi psikologis awak kapal. Dia menemukan bahwa meskipun secara fisik terlihat kuat, mereka juga menghadapi berbagai ketakutan dan perasaan yang jarang terlihat.
Sebelum menyelesaikan studi S1, Nadya sudah mendaftar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Usahanya membuahkan hasil ketika ia diterima di program Master of Educational Psychology di Victoria University of Wellington. Dia melihat pentingnya terus belajar dan berkembang.
Nadya merasa kehidupan kampus memberinya banyak pelajaran berharga. Berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang membantu dia menjadi lebih terbuka dan empatik. “Aku dulu hanya nyaman dengan orang-orang yang mirip denganku, tapi sekarang aku belajar untuk lebih memahami berbagai perspektif,” tambahnya.
Di akhir wawancara, Nadya berpesan kepada mahasiswa agar tidak hanya fokus pada studi, tetapi juga berani mengeksplorasi pengalaman baru. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dan memberi diri waktu untuk beristirahat di tengah tekanan akademis.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan