Media Kampung – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa pendidikan harus lebih dari sekadar pencapaian akademik, yakni turut membentuk karakter serta menumbuhkan rasa kepedulian sosial pada peserta didik. Hal ini disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Rita Pranawati, dalam acara National Symposium: 70 Tahun Antarbudaya AFS di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, pada Jumat, 22 Mei 2026.

Rita menjelaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia, sesuai dengan ajaran Ki Hajar Dewantara. Pendidikan harus mengembangkan tiga aspek utama sekaligus, yaitu olah pikir, hati, dan rasa, agar potensi individu bisa tumbuh secara menyeluruh dan berimbang.

Lebih lanjut, Rita menekankan pentingnya pemahaman terhadap keberagaman budaya sebagai bagian integral dalam pendidikan karakter generasi muda. Ia menilai bahwa kemampuan untuk memahami, menghargai, dan merangkul perbedaan merupakan implementasi nyata nilai kemanusiaan dalam dunia pendidikan saat ini.

Selain itu, Rita juga menyoroti perlunya membangun pola pikir maju di kalangan peserta didik agar mampu bersaing di tingkat global. Menurutnya, perbedaan budaya hendaknya dipandang sebagai jembatan pembelajaran yang memperluas wawasan dan pengalaman anak-anak muda, bukan sebagai penghalang.

“Perbedaan budaya bukanlah tembok pemisah, tetapi jembatan untuk belajar. Dunia adalah kelas kita dan belajar tidak berhenti di ruang kelas,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa proses pembelajaran tidak terbatas hanya di dalam sekolah, melainkan harus memanfaatkan perkembangan dunia sebagai ruang belajar yang luas untuk memperkaya pengalaman dan pengetahuan siswa.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, turut menegaskan pentingnya pendidikan antarbudaya dalam membentuk generasi masa depan Indonesia. Ia menyebut bahwa generasi muda harus mampu menjadi warga global tanpa kehilangan identitas kebangsaan sebagai bangsa Indonesia.

“Menjadi warga global tanpa kehilangan jati diri sebagai Indonesia adalah kekuatan generasi masa depan. Hal ini khususnya dapat dibangun melalui pendidikan antarbudaya,” kata Abdul Mu’ti. Pernyataan ini menegaskan komitmen Kemendikdasmen dalam mengintegrasikan nilai-nilai toleransi dan identitas nasional dalam sistem pendidikan.

Kemendikdasmen saat ini tengah menggalakkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil akademik semata, tetapi juga berfokus pada pembentukan karakter dan kepedulian sosial sebagai bekal penting bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan global. Upaya ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati dan sikap inklusif terhadap perbedaan budaya dalam masyarakat.

Dengan penekanan tersebut, Kemendikdasmen berupaya memperkuat peran pendidikan sebagai agen pembentukan manusia seutuhnya, yang tidak hanya pandai secara akademis tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan karakter yang kuat. Pengembangan karakter dan kepedulian sosial diharapkan menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi yang siap berkontribusi positif di masyarakat luas.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.