Media Kampung – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia resmi mencatatkan debut di pasar global melalui penerbitan obligasi global perdana senilai USD 1,5 miliar atau sekitar Rp 26,5 triliun. Obligasi ini terbagi dalam dua tenor, yakni 5 tahun dan 10 tahun, dengan nilai masing-masing USD 750 juta.

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa penawaran obligasi ini mengalami kelebihan permintaan hingga tiga kali lipat. Total pemesanan dari investor mencapai USD 4,6 miliar, jauh di atas target awal yang hanya USD 1 miliar. Tingginya minat tersebut mendorong Danantara untuk menaikkan nilai penerbitan dari rencana awal USD 1 miliar menjadi USD 1,5 miliar.

Obligasi tenor 5 tahun ditawarkan dengan kupon 5,35% dan jatuh tempo pada 2031, sementara tenor 10 tahun memiliki kupon 5,95% dengan jatuh tempo 2036. Rosan mengakui kondisi pasar saat penerbitan tidak ideal, dengan tekanan di pasar modal domestik dan pelemahan nilai tukar rupiah. Meski demikian, tingginya minat investor membuat Danantara mampu memperoleh biaya pendanaan yang lebih kompetitif dari perkiraan awal, di mana banyak pihak memperkirakan kupon akan berada di atas 6%.

Keberhasilan ini tidak lepas dari roadshow yang dilakukan Danantara ke sejumlah pusat keuangan dunia, mulai dari Hong Kong, Singapura, London, hingga New York. Roadshow dimulai pada 3 Juni setelah Danantara memperoleh peringkat kredit dari Moody’s, S&P, dan Fitch yang setara dengan sovereign rating Indonesia. Rosan secara langsung memimpin roadshow di New York.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai penerimaan positif terhadap obligasi perdana Danantara membuktikan bahwa investor asing masih percaya pada ekonomi Indonesia. Menurutnya, minat dari investor di Amerika, Eropa, dan Asia menjadi sinyal kepercayaan yang patut disyukuri.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.