Media Kampung – Dalam dialog ekonomi di RRI Surabaya, Kepala Humas dan Promosi FEB serta Dosen Manajemen FEB Universitas Muhammadiyah Surabaya, Ali Imaduddin Futuwwah, mengupas strategi UMKM digital antara influencer dan gimmick. Menurutnya, banyak pelaku UMKM bingung memilih antara membayar influencer atau menunggu ulasan pelanggan secara organik.

Ali menjelaskan bahwa influencer marketing memang menarik secara visual, berpeluang viral, dan memiliki jangkauan luas. Seorang kreator dengan ratusan ribu pengikut bisa membuat produk UMKM dikenal banyak orang dalam semalam. Data We Are Social tahun 2024 menunjukkan lebih dari 60% konsumen Indonesia pernah membeli produk karena melihatnya dari konten kreator di media sosial.

Namun, Ali mengingatkan ada masalah yang jarang dibahas: beberapa praktik influencer marketing saat ini lebih dekat ke gimmick daripada pemasaran sesungguhnya. Gimmick terjadi ketika influencer memposting produk dengan caption spontan padahal sudah dibayar dan di-script, bahkan produk tidak pernah benar-benar dipakai. Konsumen kini semakin pintar membedakan konten tulus dan yang dibuat-buat. Istilah seperti “ini sih pakai promosi melulu, ini semua settingan” justru tidak membangun kesan positif terhadap produk.

Ali menekankan bahwa influencer marketing cocok untuk produk baru yang belum dikenal, UMKM yang butuh jangkauan cepat ke segmen spesifik, serta promosi event atau peluncuran terbatas. Ia menyarankan memilih influencer yang relevan dengan produk dan tidak berlebihan dalam gimmick. Yang terpenting adalah tidak memanipulasi atau membohongi konsumen; review jujur lebih dihargai.

Menjelang akhir dialog, Ali berpesan agar UMKM tidak perlu berkompetisi dengan anggaran besar. Yang perlu dibangun adalah kepercayaan melalui promosi, layanan, dan produk yang konsisten. Influencer bisa membawa orang datang, tetapi review jujur yang membuat pelanggan kembali dan membawa teman. Jangan korbankan kualitas produk dan pengalaman pelanggan demi viralitas sesaat. Satu pelanggan puas yang menulis ulasan jujur nilainya bisa melebihi sepuluh konten berbayar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.