Media Kampung – Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, drh. Hasudungan A. Sidabalok, M.Si., mengingatkan masyarakat agar mampu membedakan siomay sapu-sapu dan tenggiri sebelum membeli, guna menghindari konsumsi produk yang kurang aman. Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu, 6 Mei 2026, setelah pihaknya menemukan dugaan penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku utama siomay di sejumlah warung.
Dalam upaya penindakan, KPKP melaporkan penangkapan sebanyak 11,49 ton ikan sapu-sapu di wilayah Jakarta, yang diduga akan diproses menjadi siomay murah. “Hasil tangkapan mencapai 11,49 ton. Masyarakat diimbau untuk tidak ragu dalam membeli maupun mengonsumsi siomay, dengan tetap memperhatikan dan mengenali ciri‑ciri produk yang menggunakan bahan baku ikan sapu-sapu maupun jenis ikan lainnya,” ujar Hasudungan.
Hasudungan menegaskan tidak ada alasan untuk panik, namun konsumen harus cermat mengidentifikasi karakteristik siomay yang aman. Ia menambahkan, “Jika proses pengolahan kurang higienis, ikan sapu-sapu dapat menimbulkan aroma tanah atau lumpur serta rasa yang lebih hambar,” sehingga penting bagi pembeli untuk mengamati rasa, tekstur, aroma, dan warna.
Dari sisi rasa, siomay berbahan ikan sapu-sapu cenderung memiliki rasa yang lebih hambar dibandingkan dengan siomay tenggiri yang menghasilkan cita rasa gurih alami. “Ikan tenggiri memiliki cita rasa gurih alami, segar, dan khas produk olahan hasil laut,” kata Hasudungan menegaskan perbedaan tersebut.
Tekstur juga menjadi indikator utama; daging ikan sapu-sapu menghasilkan tekstur yang relatif kasar dan kurang kenyal. Sebaliknya, siomay tenggiri menampilkan tekstur halus, kenyal, dan elastis, yang menurutnya meningkatkan kualitas makanan.
Aroma menjadi faktor penentu lain, di mana ikan sapu-sapu dapat menimbulkan bau amis atau bau lumpur bila berasal dari perairan tercemar. “Ikan sapu-sapu berpotensi menimbulkan aroma amis maupun bau lumpur, terutama apabila berasal dari perairan dengan kualitas yang kurang baik,” jelas Hasudungan.
Sementara itu, siomay tenggiri biasanya mengeluarkan aroma bersih, segar, dan menggugah selera, menjadikannya lebih menarik bagi konsumen. “Ikan tenggiri memiliki aroma yang lebih bersih, segar, dan menggugah selera,” tambahnya.
Dari segi warna, siomay yang terbuat dari ikan sapu-sapu cenderung berwarna kusam atau keabu‑abu, sedangkan siomay tenggiri tampak cerah, bersih, dan menarik secara visual. Perbedaan visual ini membantu konsumen melakukan seleksi cepat di pasar.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Clarissa Amelia, juga melakukan uji laboratorium terhadap sampel siomay di Cibinong, Bogor, untuk memverifikasi kandungan nutrisi dan potensi kontaminan. Hasil sementara menunjukkan bahwa siomay tenggiri mengandung kadar protein lebih tinggi serta tingkat kebersihan mikrobiologis yang lebih baik dibandingkan siomay sapu-sapu.
Hasudungan menyarankan pembeli memperhatikan label kemasan, menanyakan asal ikan, serta meminta penjual menunjukkan contoh produk mentah bila memungkinkan. “Dengan mengenali ciri‑ciri rasa, tekstur, aroma, dan warna, konsumen dapat menghindari produk yang tidak memenuhi standar keamanan pangan,” ungkapnya.
Latar belakang masalah ini berakar pada meningkatnya permintaan siomay sebagai camilan cepat saji di wilayah DKI Jakarta, sehingga sebagian pedagang beralih pada bahan baku yang lebih murah namun berisiko. Pemerintah daerah menargetkan penurunan penggunaan ikan sapu-sapu dalam produksi siomay sebesar 70 % pada akhir tahun 2026.
Sejauh ini, pihak KPKP terus melakukan pengawasan intensif di pasar tradisional dan pusat kuliner, serta bekerja sama dengan satpol‑pp untuk menindak pedagang yang melanggar. Upaya tersebut diharapkan dapat memastikan konsumen mendapatkan siomay yang aman, lezat, dan sesuai standar kualitas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan