Media Kampung – Pada Rabu, 6 Mei 2026, keluarga Bunga Zainal menggelar pemakaman ayahanda tercinta, Sapuri, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta, dengan suasana duka yang terasa mendalam. Sekeliling area pemakaman dipenuhi pelayat yang menahan rasa haru, sementara sorotan kamera mengabadikan momen Bunga Zainal yang tampil tegar namun tak mampu menahan air mata.
Sapuri, ayah Bunga Zainal, meninggal pada Selasa, 5 Mei 2026 setelah berjuang melawan kanker selama beberapa tahun, sehingga keluarganya harus berhadapan dengan kehilangan mendadak. Kematian beliau diumumkan secara resmi melalui keluarga dekat, yang menyebutkan bahwa beliau menghembuskan napas terakhir di kediamannya, dikelilingi oleh orang-orang terdekat yang setia menemani hingga saat terakhir.
Ambulans yang mengangkut jenazah tiba di TPU Tanah Kusir sekitar pukul 09.51 WIB, diikuti oleh sekumpulan relawan dan petugas pemakaman yang membantu menyiapkan prosesi. Sesaat sebelum jenazah dibawa ke liang lahat, Bunga Zainal muncul dari belakang dengan pakaian serba hitam dan kacamata hitam, menandakan keseriusan dan rasa hormat yang ingin ia tunjukkan kepada sang ayah.
Ketika petugas menurunkan jenazah ke dalam lubang pemakaman, Bunga Zainal tampak memandang dengan tatapan kosong, lalu tangisnya pecah selang beberapa detik, menandai perpaduan antara rasa kehilangan dan keikhlasan. Ia sesekali mengusap air mata dengan tangan, sambil berusaha memberi semangat kepada anggota keluarga lain yang tampak tidak dapat menahan isak tangis.
Seorang perwakilan keluarga kemudian mengucapkan terima kasih kepada para pelayat dan sekaligus meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan almarhum Sapuri semasa hidupnya. “Kami memohon maaf apabila almarhum punya kesalahan, serta mengenai utang piutang bisa menghubungi pihak keluarga,” tuturnya dengan suara serak namun tetap penuh rasa hormat.
Doa bersama dibacakan secara khidmat, diikuti dengan lantunan ayat-ayat suci yang mengiringi proses pemakaman, sementara Bunga Zainal dan para pelayat lainnya menundukkan kepala dalam keheningan. Upacara berakhir dengan penutup resmi, meninggalkan kesan mendalam pada semua yang hadir, dan menandai babak terakhir dalam kehidupan keluarga Zainal setelah kepergian sang ayah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan