Media Kampung – Penjualan besar-besaran cadangan emas oleh beberapa bank sentral utama dunia, terutama Rusia, turut memengaruhi dinamika harga emas global di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Meskipun terjadi penurunan cadangan emas, fundamental logam mulia ini masih dianggap kuat dan berpotensi kembali menguat seiring perubahan kebijakan moneter global.
Bank Sentral Rusia tercatat telah melepas sekitar 900 ribu ons troi emas sejak awal 2026 untuk menutupi defisit anggaran negara yang membengkak akibat biaya perang di Ukraina dan penurunan pendapatan ekspor energi. Penjualan ini menjadi yang paling signifikan sejak 2002 dan menurunkan cadangan emas Rusia ke level terendah sejak Maret 2022. Analis Natalia Milchakova menyebutkan bahwa tanpa langkah ini, defisit anggaran Rusia berpotensi melampaui 5 triliun rubel, sehingga pencairan cadangan emas menjadi opsi strategis untuk menjaga likuiditas keuangan negara.
Langkah Rusia ini menarik perhatian pasar komoditas internasional karena selama dua dekade terakhir negara tersebut dikenal sebagai pengumpul emas utama sebagai diversifikasi cadangan devisa dan pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS. Penjualan emas tersebut juga digunakan untuk memperkuat likuiditas cadangan mata uang asing, khususnya yuan China, guna mengantisipasi lesunya ekspor di awal tahun anggaran berjalan.
Di sisi lain, harga emas secara global sempat mengalami koreksi akibat aksi jual darurat oleh sejumlah negara pengimpor energi yang berebut likuiditas dolar AS untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik. Managing Partner SPI Asset Management, Stephen Innes, menjelaskan bahwa penurunan harga emas lebih disebabkan oleh kebutuhan likuiditas sementara daripada melemahnya fundamental emas itu sendiri. Ia menekankan bahwa penjualan paksa oleh bank sentral berbeda dengan penjualan berdasarkan perubahan pandangan investasi terhadap emas, sehingga tren bullish emas jangka panjang masih terjaga.
Selain faktor geopolitik dan kebijakan moneter, fluktuasi harga emas juga dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi dan gangguan pasokan energi yang berdampak pada permintaan emas sebagai aset safe haven. Penurunan harga emas sementara ini berpotensi berbalik arah jika bank sentral kembali mengadopsi kebijakan moneter longgar, yang biasanya mendorong kenaikan harga emas.
Di sisi domestik, minat masyarakat terhadap emas tetap tinggi, terutama di negara-negara yang mengalami ketidakpastian ekonomi. Hal ini terlihat dari lonjakan permintaan emas perhiasan di berbagai platform di Indonesia, yang menunjukkan bahwa emas masih menjadi pilihan investasi dan penyimpan nilai yang dipercaya oleh masyarakat.
Selain dinamika pasar global, sektor pertambangan emas juga menghadapi tantangan serius. Baru-baru ini, tambang emas ilegal di Angola mengalami longsor yang menewaskan 28 orang, termasuk 13 anggota satu keluarga, dan dua lainnya masih hilang. Kejadian ini menjadi pengingat akan risiko dan bahaya yang menyertai kegiatan penambangan ilegal di negara-negara penghasil emas, yang juga berkontribusi terhadap pasokan emas dunia.
Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di lokasi kejadian, sementara kondisi korban luka dilaporkan stabil. Angola, yang merupakan negara kaya sumber daya alam termasuk minyak dan berlian, sedang berupaya memulihkan ekonomi pasca-perang saudara dan mengembangkan kemitraan ekonomi global yang kuat.
Secara keseluruhan, meski terjadi pelepasan cadangan emas oleh beberapa bank sentral dan tantangan di sektor pertambangan, emas tetap menjadi aset penting dalam sistem keuangan global. Fundamental emas masih kokoh dan potensi kenaikan harga dalam jangka panjang tetap terbuka, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang terus bergulir.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan