Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan mencapai level Rp17.498 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Kondisi ini memicu sejumlah bank besar di Indonesia, termasuk BCA, untuk menetapkan harga jual dolar AS di kisaran Rp17.600 ke atas.

Pelemahan rupiah sebesar 0,48% atau 84 poin terjadi sejak pembukaan pasar, dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang naik 0,16% ke angka 98,11. Faktor utama pelemahan rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, yang membuat pasar global merespons dengan hati-hati. Presiden AS, Donald Trump, menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran, sehingga harapan akan meredanya konflik di kawasan Teluk menjadi redup.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif namun tetap melemah dengan rentang antara Rp17.410 sampai Rp17.460 per dolar AS pada hari itu. Ia menambahkan bahwa risiko geopolitik saat ini masih tinggi, dengan fokus pasar tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup akibat konflik tersebut.

Di sisi domestik, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan peningkatan tipis ke level 123,0 dari sebelumnya 122,9 pada Maret 2026. Kenaikan ini didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik ke 116,5, menggambarkan optimisme masyarakat terhadap lapangan kerja dan daya beli.

Beberapa bank besar di Indonesia sudah menetapkan kurs jual dolar AS yang cukup tinggi. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mematok harga jual dolar AS di TT counter dan bank notes sebesar Rp17.660, sementara untuk e-rate harga jualnya berada di Rp17.530. Bank Rakyat Indonesia (BRI) menetapkan harga jual dolar AS di e-rate Rp17.528 dan di TT counter Rp17.615. Bank Mandiri menjual dolar AS di TT counter dan bank notes pada harga Rp17.560, serta menetapkan special rate jual di Rp17.520.

Selain itu, beberapa bank lain juga mengikuti tren serupa dengan harga jual dolar AS di atas Rp17.500. Bank Negara Indonesia (BNI) mematok harga jual Rp17.560, sementara Bank Danamon dan CIMB Niaga masing-masing menetapkan harga jual di kisaran Rp17.589 dan Rp17.507. HSBC Indonesia bahkan mematok kurs jual dolar AS di atas Rp17.700 untuk mekanisme transfer dan tunai.

Tekanan terhadap rupiah ini tidak terlepas dari kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, khususnya dampak konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi dan arus modal yang cenderung mengalir ke aset-aset aman. Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah bukan fenomena tunggal, melainkan akibat tekanan global yang memengaruhi banyak mata uang negara berkembang.

Josua juga menyoroti potensi dampak negatif dari ketegangan geopolitik terhadap inflasi dan daya beli masyarakat Indonesia apabila situasi berkepanjangan, meskipun ekonomi domestik masih kuat karena didukung konsumsi dan permintaan dalam negeri. Sementara itu, Corporate Communication EVP BCA, Hera F Haryn, menekankan pentingnya koordinasi antara sektor keuangan, pemerintah, dan regulator untuk menjaga stabilitas pasar di tengah volatilitas yang ada.

Pergerakan rupiah yang melemah hingga menembus Rp17.500-an ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar dan perbankan. Kondisi tersebut mendorong sejumlah bank untuk menyesuaikan harga jual dolar AS agar mencerminkan risiko dan biaya yang meningkat di pasar global dan domestik. Pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik serta data ekonomi dalam negeri untuk menentukan arah pergerakan nilai tukar ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.