Media Kampung – Jelang RDG BI, proyeksi rupiah menunjukkan potensi melemah ke kisaran Rp17.300 per dolar AS, dengan tekanan dari kebijakan moneter yang dipertahankan.

Bank Indonesia diprediksi akan tetap mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,50% pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 21 April 2026.

Keputusan ini didasarkan pada inflasi inti yang masih berada di atas target, meski terdapat perbaikan pada harga pangan.

Data terbaru menunjukkan nilai tukar spot rupiah berada di Rp17.168 per dolar pada sesi perdagangan pekan lalu, mencatat penguatan tipis setelah intervensi pasar.

Namun, analis memperkirakan bahwa tanpa dukungan kebijakan tambahan, nilai tukar dapat kembali turun ke level Rp17.300 pada keesokan harinya.

“Kondisi pasar masih dipengaruhi oleh aliran modal asing dan dinamika suku bunga global, terutama keputusan The Fed,” ujar Budi Santoso, kepala riset di PT Danareksa Sekuritas.

Sentimen global yang cenderung hawkish menambah beban bagi rupiah, mengingat dolar AS tetap menguat setelah data tenaga kerja AS yang kuat.

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia masih berada pada level kuat, sekitar US$136,8 miliar, memberi ruang bagi BI untuk melakukan intervensi bila diperlukan.

Intervensi tersebut biasanya dilakukan melalui pasar spot dengan penjualan dolar untuk menstabilkan nilai tukar.

Sejak akhir Maret, BI telah melakukan beberapa kali intervensi, yang berhasil menahan penurunan tajam rupiah pada periode sebelumnya.

Namun, para ekonom memperingatkan bahwa tekanan eksternal dapat kembali meningkat jika risiko geopolitik atau kebijakan fiskal global berubah.

Data neraca perdagangan bulan April menunjukkan surplus yang lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya, menambah kekhawatiran atas aliran devisa masuk.

Inflasi bulan April diproyeksikan mencapai 3,6% YoY, masih di atas target 2,5%–4,5% yang ditetapkan BI, menambah alasan bagi bank sentral untuk tetap berhati-hati.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat menjadi 5,1% pada kuartal pertama 2026, sejalan dengan penurunan permintaan domestik.

Faktor-faktor tersebut memperkuat perkiraan bahwa BI tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

Jika suku bunga tetap, biaya pinjaman bagi sektor korporasi akan tetap tinggi, berpotensi menurunkan investasi dan menekan nilai tukar lebih jauh.

Investor disarankan memperhatikan kalender ekonomi internasional, terutama keputusan kebijakan moneter di Amerika Serikat dan zona Euro.

Dengan semua variabel ini, proyeksi rupiah untuk besok tetap berada pada kisaran Rp17.300 per dolar, meski ada kemungkinan pergerakan kecil seiring volatilitas pasar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.