BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat kontribusinya terhadap Program Strategis Nasional (PSN) swasembada gula melalui percepatan Program Bongkar Ratoon Tahun 2026. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tebu rakyat sekaligus memperluas areal tanam sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i saat menghadiri kegiatan Panen Tebu Program Bongkar Ratoon Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan panen bersama dan Zoom Meeting bersama Gubernur Jawa Timur, Kamis (18/6/2026).

Menurut As’ad, swasembada gula merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan kemandirian pangan nasional. Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor, keberhasilan program tersebut juga akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani tebu dan penguatan ekonomi daerah.

“Kegiatan hari ini adalah langkah nyata Kabupaten Bondowoso dalam mendukung Program Strategis Nasional Pemenuhan Swasembada Gula 2026. Swasembada gula sangat krusial untuk mewujudkan kedaulatan pangan, menekan impor, menjaga stabilitas harga, serta meningkatkan kesejahteraan para petani,” ujar As’ad.

Ia menjelaskan, Kabupaten Bondowoso mendapat target pengembangan tebu seluas 2.352 hektare yang mencakup kegiatan bongkar ratoon dan perluasan areal tanam. Target tersebut menjadi bagian dari kontribusi daerah dalam meningkatkan produksi gula nasional.

As’ad menilai Bondowoso memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai salah satu pusat pengembangan tebu rakyat di Jawa Timur. Dukungan lahan pertanian yang luas serta pengalaman panjang masyarakat dalam budidaya tebu menjadi modal penting untuk mencapai target tersebut.

Untuk memastikan keberhasilan program, Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, penyuluh pertanian, kelompok tani, perguruan tinggi, hingga industri gula.

Selain itu, berbagai langkah strategis juga disiapkan, seperti optimalisasi peran penyuluh pertanian, penguatan kemitraan antara petani dan pabrik gula, pemanfaatan teknologi pertanian, serta pengembangan sistem agribisnis yang berkelanjutan.

“Target tersebut hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi hingga para petani. Program bongkar ratoon harus menjadi gerakan bersama demi meningkatkan produktivitas tebu rakyat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bondowoso Mulyadi, S.P., M.M. menjelaskan bahwa program bongkar ratoon dilakukan sebagai upaya peremajaan tanaman tebu yang produktivitasnya mulai menurun akibat faktor usia tanaman.

Menurutnya, berbagai kajian menunjukkan bahwa kegiatan bongkar ratoon mampu meningkatkan produktivitas tebu antara 15 hingga 30 persen apabila didukung penggunaan varietas unggul, pemupukan berimbang, serta penerapan budidaya yang baik.

Hingga 18 Juni 2026, hasil verifikasi lapangan menunjukkan capaian program bongkar ratoon dan perluasan areal tebu di Bondowoso telah mencapai 797,789 hektare atau sekitar 33,92 persen dari target yang ditetapkan.

Meski menunjukkan perkembangan positif, sejumlah tantangan masih dihadapi di lapangan, mulai dari kebutuhan benih unggul, keterbatasan modal petani, hingga penyesuaian pola tanam dengan kondisi cuaca dan ketersediaan sumber air.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah daerah terus melakukan pendampingan intensif kepada petani melalui penyuluh pertanian serta memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian dan PG Prajekan.

Di sisi lain, sektor pergulaan Bondowoso juga menunjukkan tren yang menggembirakan. Pada musim giling tahun 2026, PG Prajekan menargetkan produksi gula sebesar 5,5 juta kuintal dengan rendemen rata-rata mencapai 7,62 persen, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada pada angka 7,01 persen.

Peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa kualitas bahan baku tebu dan pola budidaya petani terus mengalami perbaikan. Pemerintah Kabupaten Bondowoso pun optimistis target pengembangan tebu tahun 2026 dapat tercapai sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu sentra pergulaan di Jawa Timur.

“Kami optimistis, dengan semangat gotong royong dan kolaborasi seluruh pihak, Bondowoso mampu menjadi daerah yang berkontribusi besar dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional melalui peningkatan produksi gula,” pungkas As’ad. (Rif)

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.