Media Kampung – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus menyempurnakan skema Armuzna guna mendukung kelancaran fase puncak pelaksanaan ibadah haji tahun 1447 Hijriah. Skema ini dirancang untuk menjamin pelayanan dan mobilitas jemaah berjalan tertib selama tahapan Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang dikenal sebagai masa paling krusial dalam rangkaian haji.

Maria Assegaff, Juru Bicara Kemenhaj, menyatakan bahwa disiplin waktu dan kepatuhan jemaah terhadap arahan petugas menjadi faktor penentu dalam kelancaran pergerakan selama fase Armuzna. Untuk mengelola mobilitas jemaah dengan lebih terstruktur, Kemenhaj telah membentuk Satuan Operasional Armuzna yang bertugas mengatur perjalanan jemaah secara bertahap dan terukur.

Hingga hari ke-29 operasional haji 1447 Hijriah, tercatat telah diberangkatkan 481 kloter yang berisi 186.041 jemaah menuju Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, 472 kloter dengan 182.332 jemaah telah tiba di Makkah, didampingi oleh 1.888 petugas pendamping yang siap membantu kelancaran proses ibadah.

Pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah dimulai pada Senin, 25 Mei 2026, dengan pembagian keberangkatan dalam tiga gelombang berbeda. Seluruh rombongan ditargetkan sudah sampai di Arafah sebelum tengah malam waktu Arab Saudi agar pelaksanaan wukuf dapat berjalan sesuai jadwal.

Maria mengimbau jemaah untuk tidak berkumpul di lobi hotel sebelum jadwal keberangkatan resmi dari petugas berlaku. Jemaah juga diminta menjaga kondisi fisik, selalu membawa identitas, dan tetap berada dalam kelompok masing-masing agar proses mobilitas berjalan lancar dan aman.

Pelaksanaan wukuf di Arafah dijadwalkan pada Selasa, 26 Mei 2026, pukul 10.00 hingga 13.00 waktu setempat. Setelah magrib, seluruh jemaah akan melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah sebelum kemudian bergerak menuju Mina sesuai dengan skema yang telah ditetapkan.

Maria menekankan pentingnya jemaah tidak memaksakan diri bila kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Syariat memberikan keringanan dengan mekanisme badal lontar bagi jemaah yang mengalami uzur sehingga mereka dapat tetap menjalankan ibadah secara syar’i.

Keberhasilan pelaksanaan skema Armuzna tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas di lapangan, tetapi juga sangat ditentukan oleh kedisiplinan jemaah dalam menjaga jadwal, kekompakan selama perjalanan, dan pengelolaan tenaga agar tetap fit sepanjang rangkaian ibadah. Hal ini menjadi kunci utama untuk menyukseskan ibadah haji tahun ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.