Media Kampung – Khaby Lame, kreator TikTok paling diikuti di dunia, menjadi pusat skandal keuangan ketika ia mengumumkan penjualan perusahaan dan hak citranya senilai $975 juta pada Januari 2026. Pengumuman itu memicu sorotan global, namun di balik kilauannya tersembunyi sebuah rencana pump‑and‑dump yang menjerat sang influencer.

Pada akhir Januari, perusahaan bernama Rich Sparkle Holdings mengklaim akan membeli 49 persen saham perusahaan Khaby dengan nilai $975 juta, menjanjikan penciptaan “double AI” yang dapat memproduksi video, iklan, dan kemitraan secara otomatis. Rencana tersebut menyebut potensi pendapatan tahunan hingga $400 juta, menimbulkan ekspektasi luar biasa di kalangan investor.

Namun, realitas perusahaan tersebut jauh dari apa yang dijanjikan. Rich Sparkle hanya mencatatkan pendapatan beberapa juta dolar, sementara valuasinya melonjak secara dramatis dari $50 juta menjadi lebih dari $16 miliar dalam hitungan hari berkat hype nama Khaby.

Media mulai menelusuri latar belakang perusahaan dan menemukan struktur kepemilikan yang dibentuk menit sebelum kesepakatan, auditor yang mundur tepat sebelum penandatanganan, serta kemitraan dengan entitas Tiongkok yang pernah dihukum karena penipuan. Semua petunjuk itu mengarah pada skema klasik pump‑and‑dump, di mana saham didorong naik secara artifisial lalu dijual massal sebelum harga runtuh.

Harga saham Rich Sparkle sempat melambung dari sekitar $20 menjadi $157 per lembar, namun dalam kurang dari satu bulan nilai itu turun ke $7, menandakan kerugian lebih dari 90 persen bagi investor yang terjebak. Skandal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang regulasi pasar modal dan perlindungan terhadap tokoh publik yang menjadi magnet investasi.

Khaby Lame mengonfirmasi pada April 2026 bahwa ia menjadi korban penipuan tersebut melalui pernyataan singkat di akun media sosialnya. Ia menyatakan kekecewaan karena tidak hanya kehilangan peluang finansial besar, tetapi juga reputasinya yang sempat dipertanyakan oleh beberapa investor.

Setelah pembatalan kesepakatan, Khaby berusaha merebut kembali kontrol atas citranya dan menghapus semua referensi proyek dari platformnya. Ia kini menghadapi proses hukum yang kompleks untuk menuntut pihak‑pihak yang terlibat dalam skema penipuan, termasuk Rich Sparkle dan mitra Tiongkoknya.

Latar belakang Khaby Lame sebagai figur yang mengandalkan ekspresi non‑verbal dalam video pendek membuatnya sangat menarik bagi brand yang ingin menembus pasar generasi Z. Keberhasilan kontennya selama ini menjadikannya aset berharga, namun juga membuatnya rentan menjadi alat legitimasi dalam skema keuangan yang tidak transparan.

Pengamat pasar modal menilai kasus ini sebagai peringatan bagi regulator untuk lebih ketat mengawasi tawaran investasi yang melibatkan selebriti digital, terutama ketika perusahaan yang terlibat belum memiliki rekam jejak operasional yang jelas. Mereka menekankan perlunya verifikasi independen sebelum mengumumkan kesepakatan bernilai ratusan juta dolar.

Kasus ini juga menyoroti pentingnya edukasi finansial bagi publik, khususnya generasi muda yang sering mengikuti tren investasi berbasis hype selebriti. Tanpa pemahaman yang cukup, mereka mudah terjerumus dalam skema penipuan yang mengandalkan popularitas tokoh publik.

Hingga kini, belum ada keputusan final dari otoritas keuangan terkait investigasi terhadap Rich Sparkle Holdings. Khaby Lame tetap fokus pada penciptaan konten TikToknya, sambil menunggu perkembangan hukum yang dapat mengembalikan sebagian kerugian dan memperjelas tanggung jawab para pelaku penipuan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.