Media Kampung – Iran menyiapkan diri untuk konflik baru dengan Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump menolak proposal gencatan senjata, menambah ketegangan di Selat Hormuz.
Pada Senin 4 Mei 2026, kedua negara melancarkan aksi militer di Selat Hormuz, menguji batas gencatan senjata yang sudah rapuh.
Trump mengeluarkan ancaman keras, menyatakan “Iran akan dihapus dari muka bumi” jika menyerang kapal AS, seperti dilaporkan Fox News.
Menanggapi, pejabat Tehran menegaskan Iran tidak akan mundur dan akan mempertahankan kontrol atas selat yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Seorang laksamana AS mengklaim pasukannya berhasil menenggelamkan enam kapal kecil Iran dalam operasi terbaru.
Iran membantah klaim tersebut, menyatakan hanya menembakkan peringatan ke kapal perang AS tanpa menenggelamkan apa pun.
Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab melaporkan serangan rudal dan drone Iran, menyebutnya pelanggaran berbahaya yang mengancam keamanan regional.
Serangan tersebut menewaskan tiga warga India di Fujairah dan melukai dua orang di Bukha, Oman, menambah kecemasan warga sipil.
Harga minyak dunia langsung melonjak, kontrak Brent Juli naik lebih dari lima persen, menandakan dampak langsung konflik terhadap pasar energi.
Kenaikan biaya energi memperparah tekanan ekonomi di banyak negara dan menjadi isu politik utama bagi Trump menjelang pemilihan kongres.
Israel dilaporkan berada dalam kondisi siaga tinggi, sementara UAE memerintahkan semua sekolah kembali ke pembelajaran daring hingga akhir pekan.
Kementerian Pertahanan UAE menyatakan berhasil mencegat tiga dari empat rudal jelajah Iran, dan drone Iran ditangkap sebelum menargetkan tanker ADNOC.
Situasi masih berkembang, dengan kedua belah pihak menyiapkan pasukan tambahan dan diplomasi internasional berupaya menurunkan ketegangan di wilayah strategis tersebut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan