Media Kampung – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat lonjakan ekspor sebesar 9.162,68% pada Maret 2026, menjadikan sektor ini pendorong utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Data kumulatif Januari hingga Maret 2026 menunjukkan total ekspor NTB mencapai US$ 707,92 juta, mayoritas berasal dari komoditas pertambangan, khususnya tembaga yang diproses di pabrik lokal.
“Ini indikator kuat aktivitas ekonomi NTB bergerak progresif, terutama pada sektor berbasis sumber daya alam dan hilirisasi,” ujar Wahyudin dalam rilis Berita Resmi Statistik pada Selasa (5/5).
Sektor pariwisata juga menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan kedatangan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Lombok meningkat 24,72% menjadi 6.428 orang pada Maret.
Wisatawan domestik tercatat 1,39 juta orang, naik 34,64% dibandingkan bulan sebelumnya, memperkuat tren peningkatan kunjungan selama periode Ramadan dan Idulfitri.
Tingkat hunian hotel mencatat kenaikan, dengan total tamu di hotel bintang mencapai 87.816 orang dan hotel non‑bintang 110.249 orang, mencerminkan permintaan akomodasi yang kuat.
Transportasi udara domestik mengalami peningkatan penumpang sebesar 44,58%, sementara angkutan laut naik 39,84%, menandakan mobilitas masyarakat yang lebih tinggi dalam mendukung aktivitas ekonomi.
Inflasi di NTB tetap terkendali, tercatat 3,27% pada April 2026, dan bahkan terjadi deflasi bulanan 0,11% berkat penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, serta sayuran setelah musim panen.
Nilai Tukar Petani (NTP) pada April 2026 tercatat 128,00, menunjukkan daya beli petani yang masih kuat meski sedikit menurun dari bulan sebelumnya.
BPS menilai tren pertumbuhan ekspor, pariwisata, dan mobilitas sebagai sinyal positif bagi perekonomian NTB, namun menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan daya beli masyarakat.
Latar belakang peningkatan ekspor terkait upaya pemerintah provinsi dalam mengoptimalkan nilai tambah melalui hilirisasi sumber daya alam, terutama dengan peningkatan kapasitas pabrik pengolahan tembaga.
Selain tembaga, sektor pertambangan lain seperti batu bara dan nikel juga berkontribusi pada peningkatan nilai ekspor, meskipun data rinci tidak diungkap dalam rilis resmi.
Pariwisata NTB mendapat dorongan tambahan dari promosi destinasi Lombok sebagai tujuan liburan halal selama bulan Ramadan, yang menarik wisatawan domestik dalam jumlah besar.
Pergerakan mobilitas masyarakat, baik melalui udara maupun laut, memperlihatkan pemulihan penuh setelah gangguan pandemi, dan menjadi indikator kuat bahwa konsumsi dan kegiatan ekonomi kembali normal.
Dengan inflasi yang tetap rendah, pemerintah daerah dapat fokus pada kebijakan stimulus yang lebih terarah untuk mendukung sektor UMKM dan petani, sekaligus memperkuat infrastruktur logistik guna menjaga kestabilan rantai pasok.
Secara keseluruhan, data BPS menggambarkan NTB berada pada fase pertumbuhan yang berkelanjutan, didorong oleh sinergi antara ekspor komoditas unggulan, pariwisata yang pulih, dan mobilitas masyarakat yang meningkat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan