Media Kampung – 18 April 2026 | PKK Jember menekankan peran keluarga dalam pencegahan pernikahan dini pada talkshow “Sekolah Berdaya Mencegah Pernikahan Dini” yang digelar di Pendopo Wahyawibawagraha, Jember, Rabu 15 April 2026.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jember, Ghyta Eka Puspita, menyatakan bahwa masalah sosial seperti kemiskinan, stunting, dan rendahnya literasi berakar pada lingkungan keluarga.

“Semua permasalahan itu bermulanya dari keluarga. Karena itu kami di PKK fokus pada pendidikan keluarga, bagaimana orang tua bisa mencintai anak dengan cara yang lebih tepat,” ujar Ghyta.

PKK Jember selama ini menjalankan program edukasi melalui forum berbagi, penguatan kurikulum pendidikan keluarga, serta melibatkan Bunda PAUD dan relawan desa.

Program tersebut menekankan pembangunan hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak sebagai fondasi utama pencegahan pernikahan dini.

“Kalau anak sudah merasa cukup cinta di rumah, dia tidak akan mencarinya di luar. Ini penting untuk mencegah pernikahan dini,” kata Ghyta dalam sesi diskusi.

Pendiri Sekolah Cikal, Najelaa Shihab, menilai pendekatan berbasis keluarga di Jember sebagai langkah strategis yang masih jarang diterapkan di daerah lain.

Najelaa menambahkan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah, melainkan harus dimulai dari keluarga dan meluas ke lingkungan masyarakat.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara PKK, PAUD, dan pihak terkait lain untuk membangun ekosistem pendidikan yang terpadu.

“Upaya yang dilakukan di Jember menunjukkan keseriusan dalam membangun pendidikan dari hulu ke hilir,” ujarnya.

Data BPS 2025 menunjukkan angka pernikahan dini di Jawa Timur masih berada di atas 5 persen, dengan Jember mencatat tren menurun sejak 2022 berkat intervensi berbasis keluarga.

Analisis lokal mengidentifikasi bahwa keluarga miskin dan kurang literasi cenderung lebih rentan terhadap praktik pernikahan usia dini.

Oleh karena itu, PKK Jember mengintegrasikan program pemberdayaan ekonomi keluarga, seperti pelatihan keterampilan dan bantuan modal kecil, untuk mengurangi faktor ekonomi pemicu pernikahan dini.

Program “Sekolah Berdaya” yang sedang dirintis diharapkan dapat menyediakan kurikulum kontekstual yang mengaitkan nilai-nilai budaya, hak anak, dan kesehatan reproduksi.

Selain itu, PKK mengoptimalkan jaringan Bunda PAUD untuk melakukan pemantauan rutin terhadap anak usia 10-14 tahun di masing-masing desa.

Hasil pemantauan awal menunjukkan peningkatan kepuasan orang tua terhadap komunikasi keluarga dan penurunan keinginan anak untuk menikah sebelum usia 18 tahun.

Dengan dukungan lintas sektor yang terus diperkuat, Jember berharap menjadi contoh daerah yang berhasil menurunkan angka pernikahan dini melalui penguatan keluarga dan pendidikan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.