Riyono Dorong Kepastian Harga dan Penyerapan untuk Peternak Ayam Petelur

Media Kampung – Anggota DPR RI Komisi IV dari Fraksi PKS, Riyono, menegaskan bahwa peternak ayam petelur rakyat harus memperoleh kepastian harga dan jaminan penyerapan dari program pemerintah MBG (Makanan Bergizi). Pernyataan ini muncul menyusul aksi demonstrasi para peternak ayam petelur di Magetan yang mengeluhkan harga telur yang anjlok hingga merugikan mereka.

Harga Telur Turun di Bawah Biaya Produksi

Para peternak di Magetan saat ini hanya mendapatkan harga telur di tingkat kandang sebesar Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per kilogram, sementara biaya produksi mencapai sekitar Rp 23.000 per kilogram. Kondisi ini membuat banyak peternak terancam berhenti berproduksi karena kerugian yang terus menumpuk.

Aksi Peternak dan Respons Pemerintah

Dalam upaya mendukung peternak, terjadi aksi pembagian telur sebanyak lebih dari satu ton kepada warga di Magetan yang mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat. ASN Magetan turut membeli telur dan pemerintah memberikan jagung subsidi untuk mendukung peternak ayam lokal. Namun, upaya tersebut belum berhasil mengangkat harga telur di tingkat peternak.

Di Blitar, aksi pembagian telur sebanyak 62 ton menjadi sorotan utama para peternak lokal di Jawa Timur karena harga telur yang tidak wajar dan penyerapan program MBG yang belum optimal. Riyono menyoroti praktik tengkulak yang memanipulasi harga dan tingginya biaya pakan sebagai faktor yang memperburuk kondisi peternak.

Stok Telur Nasional Melimpah, Harga Harus Stabil

Riyono mengungkapkan data stok telur nasional yang sebenarnya melimpah. Pada akhir 2025, stok telur tercatat mencapai 6,52 juta ton, sementara kebutuhan nasional di luar program MBG sekitar 6,225 juta ton. Artinya, terdapat surplus sekitar 295 ribu ton telur di pasaran yang seharusnya bisa menjaga kestabilan harga.

Menurut Riyono, harga telur di tingkat peternak sebaiknya stabil di kisaran Rp 24.000 sampai Rp 26.000 per kilogram agar peternak memperoleh margin yang cukup untuk melanjutkan produksi. Penurunan harga yang terus terjadi berpotensi mengancam volume produksi nasional.

Langkah Konkret yang Diperlukan

Riyono mendesak pemerintah agar segera mengambil langkah cepat dan koordinasi yang efektif untuk mengatasi masalah ini tanpa menunggu aksi yang dapat merugikan iklim usaha dan ketahanan pangan nasional.

  • Menetapkan harga pembelian di kandang peternak lokal sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) di kisaran Rp 22.000 sampai Rp 25.000 agar harga di konsumen maksimal Rp 30.000.
  • Satgas Pangan harus menindak tegas pembeli besar yang membeli telur di bawah HAP dengan memberikan sanksi.
  • Memberikan jaminan harga dan pembelian dari semua SPPG di bawah BGN untuk menyerap telur dari peternak lokal.

Riyono yang berasal dari Magetan menegaskan pentingnya instruksi langsung dari BGN untuk memastikan program MBG berjalan optimal dan memberikan perlindungan bagi peternak ayam petelur rakyat.

Perkembangan Terbaru

Sampai saat ini, meskipun telah ada berbagai aksi dan perhatian, kondisi harga telur di tingkat peternak masih belum membaik. Harga yang rendah dan biaya produksi yang tinggi masih menjadi tantangan utama yang harus segera diselesaikan agar keberlangsungan usaha peternak ayam petelur tetap terjaga.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.