Media Kampung – Program Safari Wukuf disiapkan untuk memfasilitasi 276 jemaah lansia dan disabilitas yang mengalami keterbatasan kesehatan dalam menjalankan rangkaian ibadah haji reguler pada puncak haji 2026. Inisiatif ini bertujuan memastikan jemaah dengan kondisi khusus tetap dapat melaksanakan wukuf dengan pendampingan khusus selama fase Armuzna di Tanah Suci.

Kepala Seksi Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama Jamaah Haji (PKPPJH) serta Layanan Lansia dan Disabilitas di Daker Makkah, Ridwan Siswanto, menjelaskan bahwa program Safari Wukuf diperuntukkan bagi jemaah yang tidak dapat mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji reguler karena berbagai kondisi medis. Para jemaah lansia dengan penyakit penyerta seperti gangguan jantung, riwayat stroke, atau penyakit paru-paru, serta mereka yang mengalami cedera selama pelaksanaan ibadah haji, menjadi prioritas utama program ini.

Ridwan menyampaikan, “Safari Wukuf ini kami menampung para jemaah yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji reguler. Jadi para lansia dengan berbagai penyakit penyerta tetap bisa menjalankan wukuf dengan pendampingan petugas.” Jemaah yang mengikuti program ini akan menjalankan ibadah wukuf dari dalam bus khusus yang telah disiapkan, sehingga mereka tetap bisa merasakan puncak ibadah haji meskipun dalam kondisi terbatas.

Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan Safari Wukuf, panitia menyiapkan 15 bus khusus yang ramah disabilitas dan dilengkapi fasilitas pendukung. Jemaah nantinya akan diangkut menuju Arafah dan menjalankan wukuf dari dalam bus dengan didampingi petugas sekaligus mendengarkan ceramah. Setelah selesai, mereka akan langsung dibawa kembali ke hotel untuk beristirahat, mengingat kondisi kesehatan mereka yang membutuhkan perhatian khusus.

Selain gangguan fisik, program ini juga melayani jemaah yang mengalami gangguan memori akut selama berada di Tanah Suci. Beberapa jemaah dilaporkan mengalami disorientasi hingga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. Seluruh peserta Safari Wukuf telah melewati pemeriksaan ketat dan mendapatkan rekomendasi dari dokter kloter, yang menilai kemampuan mereka mengikuti rangkaian ibadah haji reguler.

Ridwan juga mengungkapkan bahwa untuk ibadah lempar jumrah, jemaah yang mengikuti Safari Wukuf akan dibadalkan oleh petugas karena keterbatasan kondisi kesehatan mereka. Hal ini menjadi solusi agar para jemaah tetap dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan layak meskipun tidak secara langsung hadir di lokasi setiap ritual.

Program Safari Wukuf menjadi langkah penting dalam memberikan pelayanan haji yang inklusif, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas. Dengan dukungan fasilitas transportasi khusus dan pendampingan medis, jemaah dapat menjalankan ibadah wukuf dengan aman dan nyaman.

Pelaksanaan Safari Wukuf pada musim haji tahun 2026 ini juga mencerminkan komitmen pihak penyelenggara ibadah haji Indonesia dalam meningkatkan kualitas layanan bagi seluruh jemaah, tanpa terkecuali. Upaya ini diharapkan dapat memberikan pengalaman ibadah yang bermakna dan memudahkan mereka yang memiliki keterbatasan fisik maupun kognitif.

Dengan terselenggaranya program ini, diharapkan para jemaah lansia dan disabilitas dapat tetap merasakan kemuliaan puncak ibadah haji secara penuh walau dengan metode yang berbeda. Safari Wukuf bukan hanya solusi praktis, tetapi juga bentuk perhatian dan kepedulian terhadap keberagaman kondisi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.