Media Kampung – Di Posyandu Sejahtera, Banda Aceh, suasana ramai balita dan aktivitas imunisasi menjadi gambaran nyata perjuangan ibu dan tenaga kesehatan dalam memastikan imunisasi anak terlaksana di tengah tantangan sosial dan budaya. Fatimah, seorang ibu, terlihat memeluk putri bungsunya, Humaira Azzahra, bayi berusia 15 bulan yang baru saja menerima imunisasi lengkap sebagai bentuk ikhtiar menjaga kesehatan anaknya.
Bagi Fatimah, imunisasi bukan hanya sekadar proses rutin yang tercatat di buku kesehatan, melainkan sebuah usaha tulus untuk melindungi masa depan anak dari risiko penyakit yang tidak selalu terlihat. Dukungan suami, Rusli, sangat berperan penting dalam meyakinkan Fatimah agar tetap disiplin menjalankan imunisasi bagi ketiga anaknya. Rusli memahami manfaat jangka panjang vaksin yang membuat daya tahan tubuh anak-anaknya lebih baik dibandingkan anak yang tidak mendapatkan imunisasi.
Di sisi lain, perjuangan petugas kesehatan seperti Bidan Desa Indah Sari tidak kalah berat. Ia aktif melakukan kunjungan rumah untuk memastikan bayi mendapatkan imunisasi dasar, terutama ketika orang tua tidak hadir di posyandu. Namun, Indah menghadapi kendala berupa hoaks yang menyebar terkait status halal vaksin, menyebabkan sebagian warga menolak atau bahkan menutup pintu saat petugas datang. Ia pun tetap menghormati keputusan keluarga dengan tidak memaksakan imunisasi tanpa izin dari orang tua.
Menanggapi situasi ini, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono mengusulkan inovasi pelayanan imunisasi pada hari libur, seperti Sabtu atau Minggu. Hal ini bertujuan agar para ayah, yang biasanya bekerja dan tidak ada di rumah saat imunisasi dijadwalkan, dapat turut hadir memberikan izin dan mendampingi anaknya. Keputusan terkait imunisasi di wilayah Aceh sangat bergantung pada persetujuan pihak ayah, sehingga modifikasi jadwal ini diharapkan mampu meningkatkan cakupan vaksinasi anak.
Dante menjelaskan bahwa kesibukan para ayah yang bekerja menjadi salah satu alasan rendahnya partisipasi dalam imunisasi anak. Dengan memberikan layanan pada hari libur, diharapkan keterlibatan keluarga terutama ayah dalam pengambilan keputusan kesehatan anak dapat meningkat. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan dan mengatasi hambatan sosial yang ada di lapangan.
Perjuangan imunisasi di Banda Aceh bukan hanya soal pelayanan medis, tetapi juga tentang membangun kesadaran dan kepercayaan di tengah keluarga. Para bidan dan kader posyandu terus berupaya mendekatkan layanan dengan cara yang sabar dan penuh pengertian. Di balik setiap suntikan vaksin, tersimpan cinta dan harapan dari seorang ibu, izin dan dukungan dari ayah, serta dedikasi tenaga kesehatan untuk memastikan setiap anak memiliki kesempatan tumbuh sehat tanpa ancaman penyakit yang bisa dicegah.
Dengan adanya rencana modifikasi jadwal imunisasi dan upaya sosialisasi yang terus digalakkan, diharapkan angka cakupan vaksinasi di Aceh akan meningkat. Ini penting dalam menjaga kesehatan generasi penerus di Tanah Rencong agar mereka dapat tumbuh dengan perlindungan optimal dari berbagai penyakit menular.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan