Media Kampung, Bandar Lampung — Dokter forensik DNA pertama Indonesia, dr. Djaja Surya Atmadja, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai paparan Bisphenol A (BPA) dari galon guna ulang yang telah digunakan dalam waktu lama. Menurutnya, senyawa tersebut berpotensi mengganggu sistem hormon, terutama pada anak-anak dan perempuan.
Peringatan ini disampaikan dr. Djaja dalam sebuah podcast bersama Prof. Rhenald Kasali. Ia menjelaskan bahwa BPA merupakan senyawa yang dapat bertindak sebagai hormon sintetis sehingga berpotensi mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh apabila terpapar secara terus-menerus.
“Kalau anak kecil terus-menerus mengonsumsi air yang terpapar BPA, dampaknya bisa berupa gangguan konsentrasi, gangguan tumbuh kembang, hingga gangguan perilaku,” ujar dr. Djaja.
Ia menambahkan, perempuan menjadi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan BPA karena sistem hormonalnya lebih sensitif. Paparan berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan hormon, memengaruhi kesuburan, bahkan mengubah siklus hormonal. BPA juga diduga berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara, meski hubungan tersebut masih terus diteliti.
Dalam kesempatan itu, dr. Djaja juga menyoroti hasil survei yang menunjukkan masih ada masyarakat yang menggunakan galon guna ulang hingga 11–13 tahun. Menurutnya, penggunaan dalam jangka waktu yang terlalu lama dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kualitas kemasan jika tidak dikelola sesuai standar.
Sebagai langkah pencegahan, dr. Djaja mengimbau masyarakat untuk memeriksa kode plastik di bagian bawah galon. Ia menyarankan agar lebih berhati-hati terhadap galon berkode angka 7 yang berpotensi mengandung BPA. Sementara itu, Prof. Rhenald Kasali menyinggung bahwa sejumlah negara telah menerapkan pembatasan penggunaan BPA pada produk tertentu.





















Tinggalkan Balasan