Media Kampung – Antusias anak muda ramaikan tradisi Mubeng Beteng di Yogyakarta pada Rabu dini hari, 17 Juni 2026. Ribuan orang berjalan dalam diam mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta tanpa suara maupun gawai, merayakan tahun baru Jawa atau Malam 1 Suro.

Tradisi yang dikenal sebagai Topo Bisu ini kini menjadi ruang refleksi bagi generasi muda. Sekar Jemparing, peserta pertama kali, mengaku butuh waktu untuk menenangkan diri di tengah hiruk-pikuk kehidupan. “Tradisi Mubeng Beteng ini kan untuk merefleksikan diri, kita tenang, mengingat apa yang terjadi. Dan menurut saya, teman-teman generasi muda sekarang juga boleh mencoba itu, untuk sejenak berhenti dari deadline dan hiruk-pikuk,” ujarnya.

Nurul Amalia, warga asli Yogyakarta, menilai Mubeng Beteng relevan dengan tren healing di kalangan anak muda. Menurutnya, Topo Bisu merupakan meditasi bergerak yang efektif mengeluarkan overthinking. “Persiapan khusus tidak ada, yang penting mempersiapkan hati yang bersih, membuang rasa amarah, agar bisa melangkah dengan tenang,” tambah Nurul.

Antusiasme anak muda yang memadati jalanan benteng Keraton malam itu membuktikan tradisi tidak harus kaku. Dengan memaknai Mubeng Beteng sebagai momen detoks digital dan refleksi diri, tradisi ini tetap hidup dan relevan bagi generasi milenial dan Gen Z.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.