Media Kampung – Pelatih Timnas Brasil, Carlo Ancelotti, mengakui bahwa keputusan taktik yang diambilnya saat hydration break menjadi faktor utama kegagalan Brasil di Piala Dunia 2026. Brasil harus angkat koper lebih awal setelah kalah 1-2 dari Norwegia pada babak 16 besar, sebuah pencapaian terburuk mereka sejak Piala Dunia 1990.

Pada pertandingan tersebut, Brasil dan Norwegia bermain imbang tanpa gol hingga memasuki jeda hydration break di babak kedua. Namun, setelah pertandingan dilanjutkan, Brasil justru kebobolan dua gol dari striker Norwegia, Erling Haaland, yang membalikkan keadaan dan memastikan kemenangan timnya.

Baca juga:

Ancelotti mengakui bahwa momen hydration break menjadi titik balik pertandingan. Ia salah membaca situasi dan memutuskan mengubah taktik yang sebelumnya berjalan efektif, sehingga menghilangkan kendali permainan yang dimiliki Brasil.

“Saya pikir kami kehilangan Piala Dunia saat jeda pendinginan melawan Norwegia. Hingga saat itu, tim masih mengendalikan pertandingan. Saya melakukan perubahan taktik yang justru menjadi kesalahan karena setelah itu kami menghadapi masalah dengan gol-gol Haaland,” ujar Ancelotti.

Kebobolan di fase akhir pertandingan membuat peluang Brasil untuk bangkit semakin kecil. Ancelotti menegaskan bahwa kebobolan di menit ke-75 menyulitkan tim untuk kembali menguasai jalannya pertandingan.

Baca juga:

Kegagalan ini menjadi momen penting bagi Timnas Brasil. Setelah tersingkir secara mengejutkan, Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) tetap memberikan kepercayaan penuh kepada Ancelotti untuk melanjutkan proyek jangka panjang bersama tim nasional.

Pelatih asal Italia ini pun mulai merencanakan revolusi skuad dengan fokus pada generasi muda menuju Piala Dunia 2030. Ancelotti menyatakan akan membangun tim baru dengan mengandalkan pemain muda seperti Endrick dan Rayan, yang diproyeksikan menjadi wajah baru serangan Brasil, bersama Vinicius Junior.

Sementara itu, sejumlah pemain senior seperti Neymar telah mengonfirmasi pensiun dari tim nasional, dan beberapa pemain berpengalaman lain diperkirakan akan menyusul. Ancelotti juga menyiapkan peran lebih besar bagi pemain seperti Ederson di lini tengah, terutama jika Casemiro benar-benar meninggalkan proyek timnas.

Baca juga:

Selain itu, Ancelotti mengungkapkan bahwa ia sempat mendapat tawaran melatih Timnas Italia, namun memilih untuk tetap melanjutkan komitmennya dengan Brasil. Keputusan ini diambil berdasarkan rasa tanggung jawab kepada Federasi Sepak Bola Brasil dan masyarakat Brasil yang telah menerima dirinya sejak awal masa jabatan.

Langkah ini menandai era baru bagi Timnas Brasil, di mana proses regenerasi dan pembangunan tim menjadi fokus utama setelah hasil mengecewakan di Piala Dunia 2026.