Media Kampung – Muharram, bulan pertama dalam kalender Islam, hadir setiap tahun membawa nuansa kampung yang akrab dan sederhana. Namun, di balik lomba anak-anak dan hidangan ibu-ibu, terdapat kegelisahan mendalam tentang hilangnya rasa takjub terhadap ilmu dan kehidupan. Sebuah refleksi yang disampaikan melalui percakapan simbolis dengan burung-burung di tepi Kalimalang.
Muharram dan Burung-burung: Simbol Kegelisahan Zaman
Dalam narasi yang beredar, Muharram digambarkan duduk di tepi Kalimalang, ditemani seekor Hudhud yang kelelahan setelah menjelajahi universitas dan perpustakaan modern. Hudhud mengeluh bahwa manusia kini mengetahui hampir seluruh isi dunia, tetapi semakin jarang bertanya dan peduli. Hal ini mengingatkan pada para pelaut Bugis dan Nias yang menghormati samudra, bukan menaklukkannya.
Burung Bulbul datang dari rumah-rumah ibadah, mendengar nama Tuhan disebut di mana-mana, namun juga merasakan kemarahan dan kesulitan menghadirkan keteduhan. Muharram mengingat ayat tentang rahmat bagi seluruh alam, yang seharusnya melampaui batas keyakinan manusia.
Pipit, burung kecil dari pasar dan sawah, mengungkapkan ketakutannya bahwa penderitaan telah dianggap biasa. Sementara Dara membawa kabar tentang mudahnya manusia berpisah, dan Camar mengkhawatirkan masa depan di mana manusia menyerahkan pikirannya kepada mesin.
Pesan Akhir: Harapan dari Rasa Takjub
Menjelang senja, burung-burung menunggu jawaban Muharram. Dengan tenang, ia berkata bahwa selama masih ada manusia yang menengadah ke langit dan merasa takjub, harapan belum hilang. Ilmu, iman, dan peradaban lahir dari rasa takjub. Ketika rasa itu hilang, manusia kehilangan alasan untuk menjaga dunia.
Muharram kemudian berjalan pergi, meninggalkan sungai dan burung-burung, serta satu pertanyaan: Apakah kita masih mampu memandang ciptaan Tuhan dengan takjub dan merawatnya dengan cinta?
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan