Media Kampung – Menjelang hari Arafah, sebagian umat Muslim sering merasa ragu menjalankan puasa sunnah karena masih memiliki utang puasa Ramadan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah boleh melaksanakan puasa Arafah sebelum melunasi kewajiban puasa Ramadan yang tertunda.

Penjelasan mengenai hal ini disampaikan melalui platform Rumaysho.com pada 21 Mei 2026. Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hukum mendahulukan puasa sunnah sebelum menunaikan qada puasa Ramadan. Ulama Hanafiyah memperbolehkan puasa sunnah terlebih dahulu. Sementara ulama Malikiyah dan Syafi’iyah menganggapnya boleh namun dengan status makruh. Di sisi lain, ulama Hanabilah melarang menjalankan puasa sunnah sebelum kewajiban puasa Ramadan diselesaikan.

Meskipun terdapat perbedaan pandangan, pendapat yang lebih kuat adalah mengizinkan puasa sunnah, termasuk puasa Arafah, sebelum melunasi utang puasa Ramadan. Hal ini didasarkan pada kelonggaran waktu pelaksanaan qada puasa Ramadan yang dapat dilakukan sampai sebelum Ramadan berikutnya tiba. Landasan ini merujuk pada firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 dan riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang pernah menunda qada puasa hingga bulan Syakban.

Dengan demikian, umat Muslim yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadan tetap diperbolehkan menjalankan puasa Arafah dan puasa sunnah di awal bulan Zulhijah. Syaratnya, mereka harus memiliki niat dan komitmen kuat untuk segera melunasi utang puasa sebelum Ramadan datang kembali.

Momen puasa Arafah ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meraih keutamaannya. Pemerintah melalui sidang isbat telah menetapkan jadwal pelaksanaan puasa Arafah, sehingga umat Muslim diimbau untuk melaksanakan puasa tersebut sesuai ketetapan.

Semoga amalan puasa Arafah dan puasa sunnah lainnya diterima oleh Allah Ta’ala dan menjadi amal yang mendekatkan diri kepada-Nya, terutama bagi mereka yang berusaha menunaikan kewajiban puasa Ramadan dengan sungguh-sungguh.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.