Media Kampung – Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Wonokromo Kemenag Kota Surabaya, Ustazah Nida Dwi Rohmawati, mengingatkan umat Muslim untuk waspada terhadap tanda-tanda hati yang mati. Kondisi ini lebih berbahaya daripada sekadar hati yang sakit karena penderitanya sudah kehilangan kepekaan spiritual dan tidak lagi merasakan penyesalan saat berbuat dosa.

Dalam program Cahaya Pagi yang disiarkan pada Jumat, 12 Juni 2026, Ustazah Nida menjelaskan bahwa hati yang mati juga ditandai dengan hilangnya rasa rugi ketika meninggalkan ibadah. Orang dengan hati membatu tidak lagi merasa sedih jika melewatkan salat berjamaah, tahajud, atau amalan sunah. Mereka juga cenderung mencintai dunia secara berlebihan, sangat cemas kehilangan harta, namun tenang saat pahala akhirat terkikis.

Ustazah Nida mengutip hadis riwayat Al-Bukhari yang menyebutkan bahwa dalam tubuh ada segumpal daging (hati) yang menentukan baik buruknya seluruh perilaku manusia. Jika hati rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ia menekankan bahwa hati yang mati berbeda dengan hati yang sakit. Hati yang sakit masih memiliki iman dan mengalami pergulatan batin, sedangkan hati yang mati telah benar-benar berpaling dari kebenaran agama.

Meski demikian, kata Ustazah Nida, hati yang mati masih bisa disembuhkan sebelum ajal tiba. Proses penyembuhan dapat dilakukan melalui tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa secara konsisten. Langkah utamanya adalah memperbanyak istigfar untuk menghilangkan noda hitam akibat dosa. Selain itu, umat Muslim dianjurkan membaca Al-Quran, berzikir, mengingat kematian, serta berkumpul dengan orang saleh.

“Mari kita selalu memeriksa kondisi hati kita masing-masing. Jangan sampai kita menjadi bangkai yang berjalan di dunia,” pesan Ustazah Nida di akhir siaran.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.