Media Kampung – Persija Jakarta telah dijatuhi hukuman sanksi dan denda oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI setelah terjadi kericuhan antara suporter mereka dan Persita Tangerang. Insiden ini berlangsung pada laga pekan kelima Super League 2026/2027 di Banten International Stadium, Serang.
Akibat dari kericuhan tersebut, Persija dikenakan denda sebesar Rp90 juta dan larangan kehadiran suporter pada enam laga tandang. Meskipun secara peraturan Persija memiliki hak untuk mengajukan banding terhadap keputusan ini, Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, berpendapat bahwa seharusnya keputusan tersebut tidak dapat dibandingi.
Pandangan Ferry Paulus
Ferry Paulus menilai bahwa insiden kericuhan tersebut sudah jelas dan keputusan Komdis seharusnya dianggap final. “Jadi, terhadap keputusan ini dapat diajukan banding, ya. Sesuai dengan pasal yang ada. Memang diberikan ruang untuk banding,” ungkapnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Namun, dia juga menambahkan, “Akan tetapi, kami sebenarnya menganggap kurang pas untuk diberikan banding.” Ia menyatakan bahwa kericuhan yang terus terjadi menunjukkan bahwa perilaku rusuh di kalangan suporter seolah menjadi tren.
Dukungan untuk Hukuman Lebih Berat
Ferry Paulus juga mendorong agar sanksi terhadap oknum-oknum suporter yang terlibat dalam kericuhan dipertimbangkan untuk diperberat. “Oleh karena itu, beberapa oknum yang khususnya memiliki indikasi seperti itu kami justru akan mendorong untuk diberikan sanksi lebih berat,” tambahnya. Ia bahkan menyarankan agar pelanggar dapat dilarang untuk menonton pertandingan seumur hidup.
Dengan situasi ini, Persija Jakarta menghadapi tantangan berat tidak hanya dalam hal sanksi, tetapi juga dalam menjaga dukungan dan keamanan di antara suporter mereka.













