Media Kampung – PT Hexindo Adiperkasa Tbk. (HEXA) mengumumkan penurunan dividen sebesar 45 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang membuat harga sahamnya turun 5,91 persen menjadi Rp4.140 per saham. Meskipun demikian, manajemen perusahaan tetap optimistis dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan sebesar 14 persen pada tahun fiskal 2026.

Penurunan Dividen dan Laba Bersih HEXA

Dividen yang dibagikan HEXA untuk tahun buku 2025 diperkirakan sekitar Rp236 per saham, turun signifikan dari tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan laba bersih yang merosot hingga 46 persen menjadi Rp263 miliar. Penurunan laba bersih terutama dipengaruhi oleh kerugian yang dialami pada kuartal IV 2025 akibat ketidakpastian Rencana Kerja Anggaran Biaya (RKAB) di sektor batu bara dan nikel.

Baca juga:

Kuartal IV 2025 yang dihitung dari Januari hingga Maret 2026 menunjukkan kerugian sekitar Rp43 miliar, memperburuk kinerja keuangan tahunan perusahaan. Pemangkasan RKAB di sektor batu bara dan nikel menyebabkan ketidakpastian yang berdampak negatif pada pendapatan dan laba bersih HEXA.

Optimisme Manajemen untuk Tahun Fiskal 2026

Dalam paparan publik pada 17 September 2026, manajemen HEXA menyatakan keyakinannya untuk mencapai pertumbuhan pendapatan sebesar 14 persen, menjadi sekitar US$589,3 juta. Optimisme ini didukung oleh beberapa faktor utama, antara lain:

  • Adanya backlog order yang belum terealisasi akibat pemangkasan RKAB sebelumnya.
  • Revisi RKAB batu bara yang disetujui pemerintah sejak Agustus 2026, memungkinkan peningkatan produksi.
  • Strategi ekspansi ke sektor perkebunan, yang mendapat dorongan dari kenaikan harga komoditas di sektor tersebut.

Ekspansi ke sektor perkebunan ini menjadi langkah diversifikasi bisnis yang penting, mengingat selama ini pendapatan terbesar HEXA berasal dari sektor pertambangan yang sedang mengalami konsolidasi.

Baca juga:

Proyeksi Dividen dan Laba Bersih Tahun 2027

Berdasarkan target pendapatan dan skenario net profit margin antara 3 hingga 6 persen, laba bersih HEXA diperkirakan berkisar antara Rp219 miliar hingga Rp470 miliar untuk tahun fiskal 2026. Dengan asumsi rasio pembayaran dividen (payout ratio) sekitar 70-75 persen, dividen per saham diperkirakan antara Rp261 hingga Rp560.

Jika dihitung dengan harga saham saat ini Rp4.140, potensi dividend yield HEXA berada pada kisaran 6,31 persen hingga 13,53 persen. Namun, realisasi dividen ini sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mencapai target pendapatan dan menjaga margin laba bersih, yang dapat terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar rupiah dan biaya produksi.

Dampak dan Implikasi bagi Investor

Penurunan dividen HEXA yang signifikan memang memberikan tekanan pada harga sahamnya, tetapi proyeksi pertumbuhan pendapatan dan potensi peningkatan dividen di masa mendatang dapat menjadi sinyal positif bagi investor jangka menengah hingga panjang. Investor disarankan untuk memperhatikan realisasi target pendapatan dan perkembangan revisi RKAB serta diversifikasi bisnis HEXA di sektor perkebunan sebagai faktor kunci pertumbuhan.

Baca juga:

Dengan mempertimbangkan faktor risiko dan peluang tersebut, saham HEXA tetap menarik untuk diakumulasi oleh investor yang memiliki toleransi terhadap volatilitas dan prospek jangka panjang di sektor pertambangan dan perkebunan.